Pembunuh Wanita Ini Dapat Dideteksi

6

3 Agustus 2016 oleh muteina

kanker-payudara130513b

Sumber : sharecare.com

Jemariku masih memegangi ponsel dengan sedikit bergetar. Kutatap kembali pesan yang baru saja dikirim Kak Uly sahabatku, melalui media sosial Blackberry Messenger (BBM) yang masih terbuka dari layar ponselku.

“Astagfirullah. Meninggalmi itu kodong. Lamanyami. 2 tahun yang lalu ji.”

Penyesalan dan rasa bersalah kini menghantuiku. Sulit kupercaya, teganya aku melupakan Fika selama dua tahun terakhir. Jika bukan karena tugas akhir Kelas Menulis Kepo ini, maka aku tidak akan tahu kabar tentang Fika yang kini tengah beristirahat dengan tenang.

* * *

Jam telah menunjukkan pukul 20.30 wita. Aku harus mengantarkan sebuah paket berisi baju berwarna peach sebelum pukul 21.00 wita. Sebagai seorang pedagang online, membangun kepercayaan dan kepuasan pelanggan adalah hal yang paling utama. Malam itu aku terpaksa mengantarkan pesanan salah seorang pelanggan baru, karena yang bersangkutan berhalangan untuk menjemput barang pesanannya.

Aku belum mengenal wanita yang memesan baju berwarna peach ini. Kami hanya berkenalan melalui media sosial Blackberry. Entah sejak kapan kami berteman melalui media sosial itu. Yang pastinya, ini baru pertama kali dia memesan baju pada online shopku.

“Salam, say. Adama di jembatan Tello. Di mana rumahta?” Kukirimkan sebuah pesan melalui aplikasi BBM ke Fika. Hingga 10 menit, pesanku belum juga dibaca.

Aku mencoba mengirim pesan berkali-kali, namun setiap pesan yang kukirim belum menampikan huruf ‘R’ di sisi kiri sebagai tanda pesanku telah dibaca olehnya. Setelah hampir setangah jam menunggu, barulah dia membalas pesanku dengan memberikan arahan menuju rumahnya.

Tidak sulit kudapatkan rumah itu. Dari luar memang terlihat sangat sepi. Beberapa tanaman hias di atas pot-pot berjejeran di halaman depan. Lampu di teras rumah itu redup dan pintunya tertutup rapat.

Say, adama di depan rumahta. Gelap sekali. Tidur maki kah?” Kembali kukirimkan pesan melalui bbm ke Fika. Lagi-lagi Fika tidak membalas bahkan tidak membaca pesanku.

“Bisaki keluar kah? Lamaku mi menunggu, say.” Aku mulai kesal karena harus menunggu di pinggir jalan dengan komunikasi yang kurang lancar. Salah satu alasan kekesalanku juga adalah Fika tidak mau memberikan nomor ponselnya dengan alasan tidak bisa menerima telfon dari siapapun.

Sekira 5 menit kemudian. Fika akhirnya membalas pesanku. “Masuk maki say, langsung maki naik di kamarku.” Jawab Fika.

Kekesalanku makin bertambah. Baru kali ini kudapati seorang pembeli yang meminta barang pesanan diantarkan langsung ke kamarnya. Namun, karena tidak ingin menunggu lama, akupun memberanikan diri masuk ke halaman menuju pintu rumah yang tertutup rapat.

Pintunya tidak terkunci. Sesuai dengan permintaan Fika, aku segera masuk dan mencari anak tangga yang berada tidak jauh dari pintu masuk tadi. Belum sempat kakiku menyentuh anak tangga, seorang wanita paruh baya tersenyum padaku.

“Naikmaki, Nak.” Katanya sambil menggendong seorang bayi laki-laki.

“Oh, iye tante.” Jawabku.

Kunaiki anak tangga dan melihat ke lantai rumah tepat di ujung anak tangga paling atas. Gelap, sepi dan seram. “Assalamualaikuam. Fika!” Seruku berusaha menenangkan diri yang mulai ketakutan. “Wa alaikum salam. Masukmaki. Adaja di dalam kamar.” Jawab Fika dengan suara lembut nyaris tidak terdengar.

Seorang wanita bertubuh kurus baring di atas tempat tidur, tersenyum padaku. Aroma minyak kayu putih bercampur bawang merah dan rempah-rempah sangat terasa di kamar itu. Fika berbaring di atas kasur, sebuah sarung batik menutupi sebahagian tubuhnya. Di depan tempat tidur, sebuah TV 20′ yang dibiarkan menyala.

Aku segera duduk pada sebuah kursi yang terletak tepat di samping tempat tidur Fika.

“Maaf say, tidak kutau kalau sakitki.” Kucoba memulai pembicaraan dengan sedikit merasa bersalah.

Iyye, sengajaka memang tidak bilang.” Jawabnya sambil tersenyum.

“Bagusji baju pesananku?” Tanya Fika melirik pelastik berwarna pink yang sedari tadi ada di tangan kananku.

“Oh iya, ini pesananta. Insya Allah bagus. Kebetulan kusuka juga warnanya.” Jawabku sambil membuka bungkusan dan menunjukkan baju berwarna peach yang telah dia pesan. Fika tersenyum. Sepertinya dia menyukai baju yang telah dia pesan itu.

“Sakit Apaki’?” Tanyaku sambil memegangi tangan kirinya yang kurus seperti tulang yang tebungkus oleh kulit putihnya.

“Kanker payudara.” Jawab Fika sambil tersenyum.

“Innalillahi. Serius?” Tanyaku tidak yakin.

Iyye, sudah stadium 4”

Aku kaget dan tidak bisa berkata apa-apa. Seketika itu pula rasa bersalah menyelimutiku yang sempat merasa kesal karena pesan yang terlambat dibalas dan harus menunggu di pinggir jalan.

Fika akhirnya menceritakan bagaimana awal dia mengetahui bahwa dirinya terkena penyakit yang menjadi mimpi buruk wanita di dunia ini.

Sebelum menikah Fika sudah sering merasakan sakit di area payudaranya. Rasa nyeri itu terkadang terasa sampai ke area punggung. Setelah menikah dan dianugerahi seorang putra yang berusia 11 bulan, Fika menemukan benjolan-benjolan kecil di area payudaranya. Barulah dia memberanikan diri untuk memeriksakan diri ke dokter.

Hancur. Itulah yang Fika rasakan saat dokter mengatakan bahwa dirinya menderita kanker payudara. Sebagai seorang Istri dan Ibu, tentu rasa sedih, bersalah dan takut berkecamuk menjadi satu. Bagaimana tidak, di saat kebahagiaan telah ia dapatkan bersama suami dan anaknya, dia harus menerima kenyataan pahit dan harus menjalani pengobatan yang tentu membutuhkan biaya yang tidak sedikit.

Berbagai pengobatan telah dilakukan. Baik medis maupun pengobatan tradisional. Namun kondisi Fika justru semakin memburuk. Saat itu Fika berjuang melawan sakit sendirian tanpa didampngi suami. Sang suami saat itu berada di Parepare, Sulawesi Selatan, karena tuntutan pekerjaan yang mengharuskannya jauh dari keluarganya. Meski jauh, komunikasi Fika dan suami tetap berjalan lancar.

Karena kondisi yang semakin memburuk, benjolan pada payudara sebelah kanan Fika juga semakin membesar serta mengeras seperti permukaan batu, Dokter menyarankan untuk melakukan operasi pengangkatan payudara untuk memutus jaringan kanker yang sudah mejalar. Namun tindakan tersebut tidak mendapatkan ijin dari sang suami.

Nafasku sesak menahan isakan sambil menggenggam tangan kiri Fika. Dia membalas dengan senyuman yang menunjukkan keikhlasannya. Sungguh sulit kubayangkan bagaimana hancurnya perasaan saat harus menerima kenyataan dan dibayangi rasa takut jikalau harus meninggalkan keluarga tercinta untuk selamanya. Mataku semakin sembab dan tidak mampu lagi kutahan isakan sambil terus menggenggam tangan Fika.

Tidak satu katapun kata dapat  kuucapkan selain isakan desertai penyesalan akan kesalahanku sebelum bertemu tadi. Hal yang membuatku semakin sedih adalah memikirkan bagaimana nasib anaknya nanti? Siapa yang akan mengasuhnya? Akankah dia menjadi anak yang sehat seperti yang menjadi harapan setiap ibu terhadap anaknya? Akankah dia mendapatkan hak-haknya sebagai seorang anak? Bagiku tidak ada kasih sayang yang tulus di dunia ini yang melebihi kasih dari seorang Ibu. Fika hanya tersenyum melihatku menangis.

“Pesanka lagi baju yang baru kita upload, nah!” Kata Fika yang membuatku terdiam kebingungan. Melihat ekspresi wajahku, Fika melanjutkan, “Siapa tau, nanti bisa kupakai itu semua.” Kata Fika sambil menunjuk ke arah meja yang berada di belakangku. Terlihat beberapa pelastik berisikan baju-baju yang sepertinya berasal dari pedagang online yang sengaja dipesan oleh Fika.

“Pasti cantik kalau kita’ yang pakai itu.” Kataku sambil menyumbat hidungku yang juga mulai basah dengan gulungan tisue.

Malam Itu adalah pertemuan pertama sekaligus terakhirku dengan Fika. Setelah itu, kami terus berkomunikasi melalui media sosial yang telah mempertemukan kami. Namun entah mengapa sebulan setelah kami bertemu, Fika tiba-tiba menghiang dari kontakku. Sejak itu komunikasi kami tidak berlanjut hingga saat ini.

Hari ini aku baru mendapatkan kabar tentangnya melalui Kak Uly sahabatku yang secara kebetulan juga sangat akrab dengan Fika.  “Fika sudah seperti saudaraku, berapa kalmi keluar-masuk rumah sakit. Awalnya dia selalu mengeluh kesakitan. Lama-kelamaan tidak adami narasa sama sekali. Sampai akhirnya meninggalki, kodong.” Kata Kak Uli, menceritakan kondisi Fika sebelum meninggal.

Fika meninggal dunia pada hari Jumat, 14 Februari 2014 setelah berjuang melawan penyakit kanker payudara, meninggalkan keluarga yang sangat dicintainya. Semoga Allah memberikan tempat yang terindah untukmu, Fika. Amiin

408207_4350173509842_721529682_n

Fika (Dokumentasi Pribadi)

Fika adalah salah satu dari ribuan wanita yang nyawanya terenggut karena kanker payudara. Kanker payudara merupakan keganasan tersering dan menjadi penyebab utama kematian pada wanita diseluruh dunia, dengan jumlah lebih dari 1.000.000 kasus setiap tahun. (www.bidadariku.com).

Berdasarkan data profil mortalitas Kanker (Cancer Mortality Profile) yang dirilis oleh WHO pada tahun 2014 menyebutkan, jenis kanker yang menyebabkan kematian pada wanita di Indonesia pringkat pertama yaitu kanker payudara (21,4%). (www.kompasania.com)

Sedangkan menurut data GLOBOCAN (IARC) yang dikutip dari Kementerian Kesehatan Republik Indonesia memperlihatkan, kanker payudara menjadi sumbangsi terbesar terhadap kasus baru dan kematian yang mencapai 43,3% dan 12,9%.

Kanker payudara seakan menjadi mimpi buruk bagi setiap wanita. “Takut. Semoga ini tidak menimpa saya, mama, saudara, dan  sahabat-sahabatku.” Seperti itu kata Nucky Puspa salah seorang rekan kerja saat kami bercerita tentang penyakit ini.

Melihat kondisi beberapa perempuan yang berujung pada kehilangan nayawa, tentu sangat wajar jika ini menjadi salah satu penyakit yang ditakuti, meskipun pada kenyataannya setiap manuasia baik itu wanita maupun pria pasti akan mengalami yang namanya kematian.

Tidak hanya kaum wanita, priapun mengharapkan hal yang sama. Berharap agar Istri, Ibu dan keluarga perempuannya selalu sehat dan tidak terkena penyakit kanker payudara. Seperti Rasul Alief, sahabatku yang sebentar lagi akan menuju pelaminan bersama kekasih tercinta.

“Prihatin, kalau penyakit itu ternyata akan menimpa istriku nanti, pasti akan kuhadapi bersama. Tidak ada penyakit yang tidak bisa disembuhkan asalkan kita lebih cermat dan teliti serta menjalani pola hidup yang sehat. Tapi pastime  saya berharap semoga tidak menimpa keluargaku.” Kata Cullunk sapaan akrab Rasul Alief saat kami berbincang tentang penyakit yang menghantui kaum waita ini.

Kanker payudara adalah penyakit keganasan primer pada jaringan payudara. Kanker ini pada umumnya diawali dengan gejala adanya benjolan, namun umumnya benjolan tersebut tidak menimbulkan rasa sakit sehingga banyak wanita yang mengabaikannya. Dari banyaknya kasus, kebanyakan wanita yang memeriksakan diri ke doker setelah benjolan semakin membesar, sehingga kanker payudara baru terdeteksi saat sudah memasuki stadium lanjut.

“Sebenarnya, kita dapat melakukan pendeteksian dini kanker payudara.” Seperti itu yang telah diungkapkan Dr. Ananto Sidohutomo, MARS, seorang Dokter sekaligus seniman, relawan dan aktifis sosial. Dokter Ananto juga merupakan Founder Museum Kanker Indonesia.

“Deteksi dini kanker payudara merupakan tindakan terbaik yang dapat dilakukan. Tindakan ini sebagai upaya mencegah terjadinya kanker payudara stadium lanjut.” Kata Dr. Ananto dalam sebuah obrolan pagi pada salah satu program di stasiun radio tempatku bekerja.

Dr. Ananto menambahkan bahwa tindakan deteksi dini kanker payudara yang telah banyak dikenal dan dapat dilakukan sendiri oleh wanita adalah Periksa Payudara Sendiri atau yang disingkat dengan SADARI. Pemeriksaan ini dilakukan dengan menggunakan tangan dan penglihatan untuk memeriksa apakah ada perubahan fisik pada payudara. Proses ini dilakukan agar semua perubahan yang mengarah pada kondisi yang lebih serius dapat segera ditangani.

Dari situs tanyadok.com, saat yang paling tepat untuk melakukan SADARI adalah pada hari ke 5-7 setelah menstruasi, saat payudara tidak mengeras, membesar, atau nyeri lagi. Untuk wanita yang telah menopause, atau tidak menstruasi lagi, mereka dapat melakukannya kapan saja, dan disarankan untuk memeriksanya sendiri setiap awal atau akhir bulan. Langkah-langkah melakukan SADARI dapat dilihat di sini.

Selain SADARI, dalam upaya penanggulangan kanker payudara, Dr. Ananto telah memperkenalkan metode pemeriksaan payudara bersama suami atau yang lebih dikenal dengan SARAMI.

Metode SARAMI ciptaan Dr. Ananto ini merupakan salah satu cara pendeteksian kanker payudara dengan bantuan dari suami. Hasil yang diharapkan dari metode ini adalah para suami dapat berperan aktif bersama istri dalam meningkatkan kewaspadaannya mencegah kanker payudara, sehingga mampu menurunkan angka kesakitan dan kematian karena kanker payudara.

“Suami itu sangat berperan dalam pencegahan kanker payudara. Ide SARAMI ini muncul setelah melihat beberapa kasus tumor dan kanker payudara yang dilaporkan, ternyata ditemukan oleh suami.” Kata Dr. Ananto sambil memperlihatkan brosur yang berisikan petunjuk dalam melakukan SARAMI. SARAMI memiliki 4 tahapan penting yang dapat dilihat di sini.

Pembicaraan ini sangat menarik bagiku, karena banyak pengetahuan baru yang penting untuk diketahui sebagai seorang wanita.

“Jika terjadi perubahan bentuk atau menemukan benjolan di area payudara, apa yang harus dilakukan?” Tanyaku kepada Dokter Ananto.

“Nah, hal yang perlu diperhatikan saat dan setelah melakukan pemeriksaan adalah tetap tenang jika mendapati perubahan pada payudara. Perlu diketahui juga bahwa setiap perubahan fisik tidak selalu  mengarah pada kanker. Sebagian besar benjolan pada payudara juga merupakan tumor jinak yang tidak bersifat kanker.

“Lantas, apa yang harus dilakukan?” Tanyaku lagi. “Periksakan dan konsultasikan ke dokter!” Jawab Dokter Ananto sambil melempar senyumannya. “Salah satu upaya yang bisa dijalankan si penderita adalah melakukan terapi.” Lanjut Dokter.

Dia mengatakan, terapi kanker payudara terdiri dari kombinasi beberapa cara, yaitu dimulai dari pengambilan benjolan/kanker melalui pembedahan (mastectomy atau Lumpectomy), lalu bisa diikuti dengan kemoterapi (chemotherapy) dan radiasi (radiotherapy). Tergantung dari tingkat stadium, aspek patologi (keadaan jaringan kanker) dan aspek sosial ekonomi.

Obrolanku bersama Dokter Ananto terus berlanjut, bahkan setelah program acara tersebut selesai. Sesekali dibarengi dengan curhat terkait dengan pembahasan kanker payudara.

13891793_10205059913896153_1163612620127662053_n

Dr. Ananto Sidohutomo, MARS (kanan)

Banyaknya kasus kaker yang ditemukan setelah memasuki tahap stadium lanjut menunjukkan bahwa kurangnya pemahaman dan perhatian kita akan pencegahan penyakit ini. Banyak anak yang kehilangan ibunya, ibu yang kehilangan putrinya, suami yang kehilangan istri tercinta, atau sahabat yang pergi meninggalkan kita.

Bisa dikatakan kanker ini dapat menjadi permasalahan baru untuk seluruh keluarga. Anak yang tidak mampu mendapatkan kasih sayang ibu secara penuh, pengobatan yang membutuhkan biaya, dan bahkan tidak jarang kita mendengar, keberadaan penyakit ini dapan mempengaruhi keharmonisan keluarga.

Jika lepas dari masa kritis dan dapat bertahan hidup, masalah belum berhenti sampai di situ. Sebahagian wanita kehilangan rasa percaya dirinya seiring dengan hilangan payudara yang merupakan perhiasan bagi kaum wanita.

Seperti yang dialami seorang sahabat. Sebut saja Ratna (Nama disamarkan) yang harus kehilangan payudara sebelah kirinya dan terus menjalani terapi sejak akhir tahun 2015 lalu, karena kanker payudara Karsinoma Kelenjar Susu Invasif.

Penyakit yang dideritanya selain berimbas pada berkurangnya rasa percaya diri sebagai wanita, kurang terurusnya sang buah hati dan berbagai urusan rumah tangga, serta menyebabkan keharmonisan dalam keluarganya berkurang.

Wanita dengan penyakit kanker payudara memiliki harapan untuk disembuhkan, apabila ditemukan saat masih pada tahap awal. Karena itu penemuan kanker payuduara sejak dini sangatlah penting. Tujuan utama deteksi dini kanker payudara adalah untuk menemukan kanker dalam stadium dini sehingga pengobatnnya menjadi lebih baik.

Beranjak dari kisah Almarhum Fika, sahabatku Ratna dan ribuan wanita di dunia, pencegahan kanker payudara perlu untuk menjadi perhatian seluruh masyarakat baik itu pria maupun wanita.

Wanita adalah ibu bagi anak-anaknya dan Istri bagi suaminya, ibu yang sangat diperlukan anak-anaknya, istri yang sangat dibutuhkan suaminya, wanita yang menjadi landasan bagi terciptanya keluarga bahagia. Wanita adalah sosok cantik yang memberi warna bagi kehidupan kita.

Iklan

6 thoughts on “Pembunuh Wanita Ini Dapat Dideteksi

  1. Anna~ berkata:

    Pembunuh nomor 1 wanita di Indonesia. Speechless dan sedihka baca kisah temanta itu.
    Sayangnya, banyak wanita terdeteksi setelah stadium lanjutmi ;(
    Butuh disadarkan setelah diSADARI

    Suka

  2. Widi berkata:

    Kerennn,,,jd pengen bisa belajar nulis jg,,,kebanggan tersendiri ketika tulisan kita di baca sma org lain apalgi bermanfaat,,,semangat say 😊😊💪💪

    Suka

  3. […] Baca juga tulisan terakhir Mute yang berjudul Pembunuh Wanita Ini Dapat Dideteksi. […]

    Disukai oleh 1 orang

  4. Atika Djufri Mandang berkata:

    keren kak, tulisannya.

    Disukai oleh 1 orang

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Dengarkan musik hits di sini :

Part Of

Masukkan alamat surat elektronik Anda untuk mengikuti blog ini dan menerima pemberitahuan tentang pos baru melalui surat elektronik.

Bergabunglah dengan 17 pengikut lainnya

Instagram

HERE THEY ARE !!! 124 komunitas telah resmi terdaftar dalam PESTA KOMUNITAS MAKASSAR 2017 !!!! Sudahkah komunitas kalian bergabung dalam 124 komunitas tersebut ? 
Jika belum, yukksss masih ada kesempatan untuk mendaftarkan komunitas kalian. 
Daftarkan komunitas kece kalian <<< bit.ly/pkm2017-datakomunitas >>> Dan jangan lupa untuk mengirimkan logonya <<< humpubdok@gmail.com >>> Daftarkan segera komunitas kalian dan bergabunglah bersama kami dalam PESTA KOMUNITAS MAKASSAR 2017 !

MARI BERSAMA MERDEKA DENGAN KARYA 👊 Selamat Hari Anak Nasional 2017.
On Festival Anak Makassar 2017 bersama @sobatlemina 👬👬👬👬👭👭👭👭 Kamu akan terlihat sangat manis saat tersenyum. Tersenyumlah... Ini akan jauh lebih baik untukmu, jiwamu dan aku. *eaaaa.... #MCMakassar #meandmyhijab Jam istirahat itu anugerah... Manfaatkan selagi ada kesempatan!!! *Dalih saat ditanya "knp tertidur?" Sebenarnya jawabannya hanya karena kakak muthe "mengantuk." MC on Trend Hijab Expo 2017. #Latepost #MCMakassar #inagaleri 3 Hari lagi... Festival Anak 2017 bersama @sobatlemina . Yuhuuuu!!!!
#HariAnakNasional #VolunteerAnak Aku ingin terus melukis senyum di wajah peneduh jiwaku. Karena itu aku tidak boleh sakit atau lelah sedikitpun. 
Sehat selalu yah jueng... Sakit itu tdk enak... 😂 *MC on Tupperware event. #Latepost #MCMakassar #MCHijaber #inagaleri
Biru Pupus

Audhina Daw |dawai kata dalam kalimat

PENA BIRU

Catatan Kecil

Pena Biru

Catatan-Catatan Kecil

Sarwendah Moury

Tetap Diam Untuk Jadi Penonton atau Mulai Bergerak Untuk Menjadi Pemain

a s r i a d i

mencatat kehidupan

A+

My life, my soul, my adventure

MZUH BLOG

TRY TO BE GOOD WRITER

Enal D' dactylon

Jadikan Duniamu, Duniaku, Dunia Kita Menjadi Hijau

DaengGassing.com

Ngeblog Dulu, Ngevlog Kemudian

lelakibugis

bermain.. terluka.. tertawa..

Gradasi Ungu dan Jingga

melihat tanpa menyentuh, merasa tanpa meraba

daengmacora

Just another WordPress.com site

Kue Jahe

Menulis, pekerjaan yang tidak pernah selesai.

%d blogger menyukai ini: