Makassar, Kampung Halamanku

5

2 Juli 2016 oleh muteina

Kampung Halamankuuuu

(Ilustrasi. Sumber gambar : http://www.infomakassarrong.com)

Perempuan itu sendirian di ujung jalan gelap tanpa lampu penerang. Dia duduk di atas pondasi yang membatasi tanah kosong sekira 30×20 meter yang telah disulap menjadi sawah kecil oleng Daeng Ngunjung tetangga kami. Sawah kecil itu berada di antara 3 rumah yang berada di sisi kanan, kiri dan belakangnya. Di depan sawah itulah perempuan tadi duduk menghadap ke aspal sambil memegangi handphone di tangan kanannya.

Sudah 5 malam berturut-turut aku melihatnya duduk sendiri di sana.

Apa dia tidak takut hantu atau begal?” Tanyaku dalam hanti sambil terus menancap gas scooter matic putihku agar segera tiba di rumah.

Rumahku memang berada di kota Makassar. Namun masih ada beberapa lahan kosong yang terlihat seperti rawa dan sawah. Dulunya kawasan kami memang terkenal dengan rawa dan lahan kosong sehingga tidak jarang orang mengatakan kawasan kami adalah Kampung Mamoa. Namun kawasan kami saat ini telah dipenuhi oleh mahasiswa dari berbagai daerah. Kost-kostan makin padat mulai dari rumah kost yang sederhana hingga kost yang terbilang elite.

Karena letak kawasan kami memang bisa dikatakan strategis, yaitu dekat dari beberapa perguruan tinggi. Sebut saja UNM Parang tambung, UIN Alauddin, Unismuh, Yapika Alauddin dan beberapa perguruan tinggi lainnya, sehingga wajar jika para mahasiswa memilih untuk tinggal di kawasan kami, jalan Mamoa, kota Makassar.

Perempuan tadi mungkin salah satu mahasiswa yang juga menuntut ilmu di salah satu perguruan tinggi yang kusebutkan tadi. “Terus, kenapa dia duduk sendiri di sawah itu tiap malam?” Tanyaku dalam hati.

Ramadan tahun ini lumayan ramai. Mungkin karena berdekatan dengan jadwal ujian Seleksi Brsama Masuk Perguruan Tinggi (SBMPTN) dan pendaftaran untuk para calon mahasiswa baru, sehingga banyak wajah-wajah baru pula yang akan terlihat. Aku sebenarnya jarang memperhatikan wajah-wajah mahasiswa di sekitar rumah. Namun aku bisa merasakan ramainya Ramadan di Mamoa tahun ini.

Acca, ada perempuan selalu kulihat duduk sendiri di sana. Kenapa itu di? Kayak hantu mami.

Tanyaku ke adik bungsuku yang saat ini menjadi satu-satunya anak laki-laki di rumah, setelah 2 saudara laki-laki kami tidak lagi tinggal di rumah. Satunya telah berkeluarga, dan satunya lagi kini bekerja di Mojokerto, Jawa Timur. Setelah menyelesaikan studinya.

Oh, orang menangis itu.” Jawab adikku sambil menekan tombol pada remote televisi.

Kenapa menagis di situ? Sudah diapai, memang?” Tanyaku penasaran.

Orang barusan tinggal di Makassar itu. Baruki mau daftar kuliah. Rinduki kapang sama kampungnya.” Jawab adikku.

Ih, Kenapa mesti duduk di tempat gelap? Tidak takutnya begal atau orang nakal nanti ganggui.” Tanyaku lagi.

Mungkin rinduki sama sawah di kampungnya.” Jawab adikku singkat.

Mendengar jawaban terakhir adikku, aku sudah bisa menangkap dan sudah bisa menerka. Perempuan itu rindu suasana kampung halamannya sehingga memilih duduk sendiri di atas pondasi pinggir sawah kecil itu.

Aku tidak bisa melanjutkan pertanyaan karena cerita tentang kerinduan akan kampung halaman bukan hal yang baru kudengar dari para mahasiswa di sekitar rumah kami. Apalagi di saat Ramadan, momen yang selalu dinanti dan selalu dirindukan saat kumpul bersama keluarga.

Bahkan saat tarawih di Masjid samping rumah, tidak jarang aku melihat beberapa perempuan yang shalat sambil menangis. Ada pula yang mendengarkan ceramah sambil tersedu-sedu menahan isakan. Setelah itu, saat menjelang lebaran mereka akan mudik dengan suka cita membawa rindu untuk keluarga tercinta di kampung halaman. Mamoapun menjadi sepi.

Berbicara soal kampung halaman, aku sering mendapatkan pertanyaan, “Di mana kampungmu?” Sontak akupun menjawab, Makassar adalah kampung halamanku. Sebenarnya mamaku berdarah bugis asal Bone campur Sinjai. Bapak dari Jeneponto. Namun karena kakek dan nenek kami telah menetap di kota Makassar sehingga generasi-generasinya juga telah beranak cucu di kota Makassar.

Memang menyenangkan bila memiliki kampung halaman dan mudik saat menjelang lebaran. Menikmati udara pedesaan yang sejuk, sawah yang luas, gunung menghijau, buah dan sayuran serta bunga yang tumbuh subur, mendengar suara kokok ayam dipagi hari, dan warga yang ramah.

Namun bukan berarti aku tidak senang tinggal di tempat tinggalku bersama keluarga saat ini. Bila mereka yang mudik akan pulang ke kampung halamannya, maka disitulah kesempatanku untuk menikmati kampung halamanku. Yah, Makassar.

Aku mencintai Makassar tanah kelahiranku. Sama seperti mereka yang mencintai kampung halamannya, Makassar bagiku adalah tempat terbaik untuk kutinggali. Aku merasa kesal bahkan marah bila menyaksikan orang-orang melakukan hal yang dapat merusak suasana di kotaku, membuang sampah di sembarang tempat bahkan saat mahasiswa-mahasiswa menggelar aksi unjuk rasa dengan menutup jalan dan merusak fasilitas umum.

Aku masih ingat, November tahun 2014 lalu. Waktu itu para mahasiswa dari berbagai kampus menggelar aksi unjuk rasa besar-besaran menolak kenaikan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) dengan menutup jalan, bakar ban, Memukul sopir pete-pete, membakar kendaraan, saling lempar dengan warga dan oknum polisi serta merusak fasilitas-fasilitas umum. Dengan mengatas namakan suara rakyat mereka merampas hak rakyat untuk beraktivitas, mencari uang, dan menikmati kota sendiri.

Kekesalanku memuncak waktu itu. Dengan santainya mereka membuat keributan dan setelah itu tidak ada satupun dari mereka yang secara resmi memohon maaf kepada kami warga Makassar yang merasa dirugika dengan aksi yang kata mereka untuk rakyat itu. Kekesalanku ini sempat kutuliskan pada media sosial Facebook pribadiku sehingga menimbulkan perdebatan antara aku dan beberapa teman yang pro terhadap aksi mahasiswa itu.

Aku memang menyukai suasana pedesaan, namun tidak sedikitpun mengurangi kecintaanku terhadap tanah kelahiranku kota Makassar.

Makassar adalah kampung halamanku yang mungkin akan kurindukan bila berada di tempat yang jauh. Sama seperti para mahasiswa itu yang merindukan kampung halamannya.

Iklan

5 thoughts on “Makassar, Kampung Halamanku

  1. Mukhsin Pro berkata:

    Kampung halaman selalu akan jadi tempat pulang. Keren kak.

    Suka

  2. wenwenmoury berkata:

    Kerren kakak Innah😄😄

    Suka

  3. dokterkiky berkata:

    Makassar jadi seperti kota lain saja saat hampir semua penghuninya pergi mudik lebaran.
    Selamat menikmati (kota) kampung halaman kak mute!

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Dengarkan musik hits di sini :

Part Of

Masukkan alamat surat elektronik Anda untuk mengikuti blog ini dan menerima pemberitahuan tentang pos baru melalui surat elektronik.

Bergabunglah dengan 17 pengikut lainnya

Instagram

Maaf, videonya rada alay gitu... Song : RESAH - Cover by ME 😎 (Original by @payungteduhofficial )

Music : via Smule 🎤 I wanna know, but I don't wanna ask. Untuk Anda yang ingin lanjut kuliah S2,dan S3 atau Study Tour di Negeri Sakura, Negeri Teknologi, Negeri Animasi ... JEPANG

Insyaallah. 20-26 November 2017
Contact Person: 081354310291 #MCMakassar #MCHijaber #inagaleri #MeandMyHijab #hijabersmakassar #makassarhijabers #instamakassar #makassar #makassarkeren Come 'n join us, Hijabers Makassar

Info : bit.ly/komiteHMM Be happy, be bright, be you

#inagaleri #MeandMyHijab #makassarhijabers #hijabersmakassar
Biru Pupus

Audhina Daw |dawai kata dalam kalimat

PENA BIRU

Catatan Kecil

Pena Biru

Catatan-Catatan Kecil

Sarwendah Moury

Tetap Diam Untuk Jadi Penonton atau Mulai Bergerak Untuk Menjadi Pemain

a s r i a d i

mencatat kehidupan

A+

My life, my soul, my adventure

andi syahriyunita

Architecture and Lifestyle

MZUH BLOG

TRY TO BE GOOD WRITER

Enal D' dactylon

Jadikan Duniamu, Duniaku, Dunia Kita Menjadi Hijau

DaengGassing.com

Ngeblog Dulu, Ngevlog Kemudian

lelakibugis

bermain.. terluka.. tertawa..

Gradasi Ungu dan Jingga

melihat tanpa menyentuh, merasa tanpa meraba

daengmacora

Just another WordPress.com site

Kue Jahe

Menulis, pekerjaan yang tidak pernah selesai.

%d blogger menyukai ini: