Perempuan : Madu dan Dimadu

6

26 Juni 2016 oleh muteina

123650

Na, jadiji kita ketemu hari ini?”

Suara seorang wanita dari balik telepon genggam putih yang masih melekat di telinga kiriku. Suara yang sangat akrab. Sudah lama aku tidak mendengarnya berkeluh dan berbahagia menceritakan kisahnya lewat telepon. Terakhir mungkin sekitar bulan Maret tahun lalu.

Insyaallah, kak.” Jawabku sambil memperbaiki posisi baringku yang baru saja dibangunkan oleh suara dering telepon dari wanita tadi.

Dia adalah salah satu sahabatku. Sebut saja Dara (nama disamarkan), wanita yang usianya lebih tua 4 tahun dariku. Kak Dara kukenal sebagai wanita tangguh dan terkenal rewa. Telah bertahun-tahun dia menanggung beban sebagai seorang single parent setelah berpisah dengan suaminya dan memilih hidup berdua dengan putera semata wayangnya yang masih berusia 4 tahun.

Kami akrab secara tidak sengaja, saat kami bekerja pada satu perusahaan swasta di lantai 12 salah satu gedung tinggi yang ada di tengah Kota Makassar. Di sanalah aku mengenal sosok Kak Dara wanita yang tangguh dan rewa. Dari dia pula aku belajar menjadi wanita mandiri yang tidak mudah mengeluh apapun yang dihadapi. Dia mengajariku menjadi wanita yang kuat dalam keadaan apapun. Namun pada akhirnya komunikasi kami terputus sejak aku memutuskan untuk resign dari perusahaan itu.

Dua hari yang lalu tanpa sengaja kutemukan akun Instagram milik kak Dara. Aku mencoba mengintip uraian bio pada profile dan memperhatikan foto kebahagiaan yang telah dia unggah. Yah, benar dia adalah kak Dara sahabatku. Namun ada beberapa foto yang membuatku terkejut. Kak Dara baru saja melahirkan putera ke-2 nya.

“Kak Dara telah menikah? Siapa suaminya?”

“Mengapa menikah tanpa memberiku kabar?”

“Atau dia rujuk kembali dengan mantan suaminya?”

Tanyaku dalam hati sambil mengamati foto-foto Kak Dara satu persatu.

***

Aku menghentikan schooter matic putihku tepat di depan rumah besar yang posisinya tepat di ujung jalan sehingga terlihat seperti rumah yang memotong jalan tersebut. Orang-orang menyebutnya sebagai rumah potong sate.

Rumah yang memiliki posisi seperti ini biasanya dikaitkan dengan suatu mitos dan mistis, penghuni rumah potong sate akan meninggal satu keluarga. Tidak jelas Mitos itu berasal dan beralasan dari mana. Namun memang rumah di hadapanku kini terlihat seperti rumah yang tidak berpenghuni.

Kuketuk pintu berbahan kayu tebal bercat putih beberapa kali. Ada perasaan parno berada di rumah yang tidak terawat ini. Tanah pekarangan depan rumah yang cukup luas sekitar 15×10 meter memiliki 2 batang pohon mangga besar berdaun lebat yang menutupi penampakan rumah tersebut dari luar.

Daun-daun kering yang berguguran menyelimuti tanah bercampur rerumputan kecil. Cat tembok rumah dan pagar mulai pudar. Hanya warna lumut yang tumbuh subur nampak jelas menguasai permukaan tembok itu. Kesemuanya membuat suasana rumah ini semakin menakutkan.

Assalamualaikum, kak Dara!” Teriakku tidak sabar ingin segera mencari teman untuk menyelamatkan diri dari rasa takut sambil mengetuk pintu beberapa kali.

Pintu terbuka, wajah kak Dara girang memelukku dengan erat.

Long time no see you bebs…” Kata kak Dara sambil memelukku dengan erat. Aku legah, senang, rasa takutkupun hilang.

Rumah kak Dara tidak berubah dari terakhir saya datang ke sana. Tembok putih bercampur merah muda. Seperti biasa ruang tamunya terlihat sepi karena jarang digunakan kecuali pada saat ada tamu. Sofa berjejeran bersandar pada tembok, lampu redup dan foto keluarga yang menempel di dinding, masih seperti dulu, tidak ada yang berubah posisi.

Halo imut…” Seorang pria dengan tinggi sekitar 180cm menyapaku. Menyadari ada pria dalam rumah itu, aku bisa menebak pria ini adalah suami kak Dara. Tunggu, dia memanggilku Imut. Imut adalah julukanku waktu SMA. “Apa dia mengenalku?” Tanyaku dalam hati.

Aku memperhatikan wajahnya. Aku mengenali wajah pria itu. Yah, dia Kak Syam (nama disamarkan) seniorku waktu SMA. “Bukankah kak Syam telah memiliki Istri dan anak?” tanyaku dalam hati seperti tidak percaya.

Kak Dara dan Kak Syam telah menikah sejak tahun lalu. Menikah secara agama atau yang lebih akrab disebut menikah siri. Mereka hidup bersama tanpa sepengetahuan Istri dan anak-anaknya.

Sulit kupercaya, betapa sempitnya dunia. Kak Dara sahabatku telah menikah diam-diam bersama Kak Syam Senior ku waktu SMA. Bukan hanya kebetulan ini yang mengejutkanku. Tapi pernikahan mereka yang benar-benar membuatku tidak bisa berbicara sedikitpun. Bahkan mereka telah dikaruniahi putera yang baru saja lahir dua bulan yang lalu.

Tidak ada perempuan yang mau jadi ke dua Ina. Sayapun juga menderita dengan status seperti ini. Mau diapa, kami saling mencintai.” Kata kak Dira menjelaskan tentang hubungan mereka.

Aku turut merasakan kebahagiaannya, kak Dara akhirnya telah menemukan pria yang mencintai dengan segenap jiwa dan siap menerima segala kelebihan serta kekurangannya. Wanita siapapun pasti menginginkan hal yang sama. Namun tetap saja sulit kusembunyikan kesedihanku.

Membayangkan betapa hancurnya hati wanita yang telah menjadi istri pertama kak Syam bila mengetahui dirinya telah dimadu.

Bagaimana dengan istri dan anak-anaknya di rumah yang selalu menanti penuh cinta, bukankah ini akan melukai hati mereka?”

Aku tidak berdaya. Meliat wajah bayi tak berdosa di pelukan kak Dara membuatku semakin tidak sanggup menahan isakan. Bayi itu telah menjadi bukti cinta antara kak Dara dan kak Syam.

***

Seperti biasa, saat berada di rumah aku menghabiskan sebahagian besar waktuku dengan berdiam di kamar. Aku pulang dengan tubuh lemas. Energiku terkuras karena menangis dan terus memikirkan Kak Dara sahabatku dan perempuan yang telah dimadu oleh suaminya, kak Syam. Setiap kali aku melihat kemesraan dan kebahagiaan mereka, aku selalu terbayang seorang perempuan dan anak-anak yang dengan penuh kasih menanti suami dan ayahnya pulang ke rumah.

Apa kesalahan wanita itu sehingga kak Syam memutuskan untuk menikah lagi?”

“Tidak adakah rasa bersalah sedikitpun terhadap istri dan anak-anaknya?”

“Bagaimana psikologi anak-anaknya bila mengetahui ibunya telah dimadu?”

“Semudah itukah urusan lelaki berpaling?”

“Sesederhana itukah bagi pria tentang pernikahan?”

Pertanyaan demi pertanyaan menghantuiku sembari menyadari porsiku tidak bisa mencampuri sejauh itu. Aku bahagia untuk sahabatku namun aku sedih untuk saudaraku kaum perempuan.

Teringat ketika salah satu dai kondang di Indonesia yang telah dikabarkan poligami. Tidak dapat kubayangkan bagaimana kegetiran seorang istri berucap kata rela. Satu kata yang mungkin tidak sanggup diucapkan oleh perempuan siapapun secara tegar, apalagi di depan publik.

Dengan bibir bergetar, wajah yang dipaksakan untuk tetap tenang, ia telah menjadi pahlawan untuk perempuan yang bernasib sama. Pernyataan kesediaannya untuk dimadu membuat miris sebahagian perempuan. Ada yang bahkan mengatakan, jaminan surga buat perempuan yang ikhlas dimadu.

Bila istri kak Syam tahu tentang pernikahan suaminya dengan sahabatku, apakah dia juga akan berkata rela, memberontak atau pasrah dengan keadaan?”

Aku bukanlah seorang Ustadzah. Ilmu agamaku tidaklah sedalam istri-istri para dai. Hatiku terus berontak mempertanyakan letak keadilan. Benarkah agama yang selama ini kita yakini setega itu meletakkan perempuan?

Pikiranku kacau, tubuhku lemas tidak berdaya berada di antara rasa bahagia untuk sahabatku yang telah menjadi madu dan sedih perempuan yang telah dimadu.

Iklan

6 thoughts on “Perempuan : Madu dan Dimadu

  1. Mukhsin Pro berkata:

    Yang penting bukan diracun. Hehehe

    Suka

  2. misshale berkata:

    duh..miris nasib istri pertamax, di madu diam2.. 😦

    Suka

  3. kolagit berkata:

    ini kisah nyata mbak???

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Dengarkan musik hits di sini :

Part Of

Masukkan alamat surat elektronik Anda untuk mengikuti blog ini dan menerima pemberitahuan tentang pos baru melalui surat elektronik.

Bergabunglah dengan 17 pengikut lainnya

Instagram

I'M READY to come on "Trend Hijab Expo" by @moslemfashionid 🙌🙌🙌🙌🙌🙌🙌 Nantikan trend busana muslim terbaru dr brand dan designer ternama. 30 November - 4 Desember 2017 di Sandeq Ballroom, Grand Clarion Hotel, Makassar.
*Can't wait 💃💃💃💃💃 Datang ki' nah.... "Fighting" buat yg lanjut bertugas, "Enjoy" buat yg menikmati malam minggu, "Get better soon" buat yang lg sakit.

Sampai jumpa di Obrolan Millennial selanjutnya. Yang suka sama sinetron tahun 90an "Gerhana" pasti tau banget sm teteh cantik kembaranku ini 😉. Teh Dina Lorenza @dinalorenza1975 *MC bareng @n.narundana gantemmmm on Makassar Fashion Fest 2017. No rivers, no flowers... Because I was lost in the ocean. 
Actually I need a MAP.

It's You!!! #HijabersMakassar #meandmyhijab Yg namax artis... Capek dan tdk makeup ttp saja cantik. Subhanallah teh Gessy Selvia. See you.. Just let it be. Life's as kind as you.
.
.
.
.
#inagaleri #meandmyhijab #selfie #HijabersMakassar
Hijabers Makassar

"Fastabiqul Khairat"

Biru Pupus

Audhina Daw |dawai kata dalam kalimat

PENA BIRU

Catatan Kecil

Pena Biru

Catatan-Catatan Kecil

Sarwendah Moury

Tetap Diam Untuk Jadi Penonton atau Mulai Bergerak Untuk Menjadi Pemain

a s r i a d i

mencatat kehidupan

A+

My life, my soul, my adventure

andi syahriyunita

Architecture and Lifestyle

MZUH BLOG

TRY TO BE GOOD WRITER

Enal D' dactylon

Jadikan Duniamu, Duniaku, Dunia Kita Menjadi Hijau

DaengGassing.com

Ngeblog Dulu, Ngevlog Kemudian

lelakibugis

bermain.. terluka.. tertawa..

Gradasi Ungu dan Jingga

melihat tanpa menyentuh, merasa tanpa meraba

daengmacora

Just another WordPress.com site

Kue Jahe

Menulis, pekerjaan yang tidak pernah selesai.

%d blogger menyukai ini: