Belajar tentang Cinta dan Ihklas dari Kakek Ramang

Tinggalkan komentar

26 Juni 2016 oleh muteina

123611

Aku nyaris terjatuh karena sepatu wedges merah setinggi 7cm yang kukenakan membuatku tidak mampu menjaga keseimbangan tubuhku saat menapaki tanah kering tidak merata. Tumpukan tanah yang membentuk gunung-gunung kecil itu bertaburan bebatuan kerikil bercampur sampah yang mulai mengering. Nafasku mulai tersengal kelelahan.

Mau ke mana kita ini?” Tanyaku dalam hati sambil melanjutkan langkah-langkah kecil mengikuti rombongan yang tergabung dalam Komunitas Anak Hunting Seru Makassar. Hari ini aku diundang untuk ikut berpartisipasi dalam rangkaian kegiatan Ramadan yang mereka selenggarakan.

Sedikit menyesal karena menggunakan wedges tinggi hari ini. Jika saja kutahu bahwa tempat yang akan kami kunjungi akan melewati tanah tidak rata seperti ini, mungkin aku akan mengenakan sandal jepit untuk memudahkan perjalananku.

Kami berjalan memasuki lorong pendek sekitar 7 meter yang diapit 2 tembok rumah warga. Sedikit mengintip ke depan, di ujung lorong kulihat sekumpulan Ibu-ibu ngerumpi di atas balai kayu yang bersandar pada dinding rumah kecil. Ada yang berbaring, ada yang sedang bercerita sambil menyibak helai-helai rambut anaknya, terlihat seperti aktivitas mencari kutu rambut. Di sebelah timur tepat di depan balai tempat Ibu-ibu berkumpul itu, terlihat sekumpulan anak-anak yang bermain tanah dengan riang.

Seperti keluar dari terowongan, kami tiba di satu lahan seluas kurang lebih 300m2. Di sisi barat lahan, terlihat barisan 5 rumah yang berhadapan langsung dengan paparan sinar matahari sore sekitar pukul 16.30 Wita.

Rumah-rumah itu berkukuran sekira 3×4 meter, dindingnya juga kusam, terihat tua dengan warna yang mulai pudar. Di rumah yang saling berdempetan itu, sampah bertaburan.

Memiliki tiang penyangga setinggi 1 meter, di bawah rumah terlihat comberan berwarna gelap bercampur sampah yang bila dilihat, kondisi rumah ini bisa dikatakan tidak sehat. Tidak bisa kubayangkan seberapa banyak nyamuk yang akan berkeliaran di tempat ini saat malam hari tiba.

Aku baru tahu terdapat rumah-rumah kecil di sini. Mereka tersembunyi di belakangi rumah warga yang berada di pinggir jalan poros Manggarupi, Kel. Paccinongan, Kec. Somba Opu, Gowa.

Baik teman-teman, kita sudah tiba di rumah kakek Ramang.” Kata Daeng Emba yang merupakan koordinaor Anak hunting seru Makassar. Kami berhenti di depan salah satu rumah yang paling kecil dan paling tidak beraturan.

Rumah itu berukuran 2×3 meter, kecil dan sempit. Hanya ada kasur dan pakaian yang menggantung di dalam. Tepat di depannya terdapat tumpukan kasur dan bantal serta barang-barang rumah tangga yang berbaur dengan sampah yang ikut terjemur oleh matahari sore.

Hari ini kami melakukan bakti sosial. Jika biasanya organisasi atau  komunitas memilih berkunjung ke Panti Asuhan, kami lebih memilih berkunjung ke rumah salah satu warga yang masuk dalam golongan kaum dhuafa.

Seorang kakek berusia 80 tahun lebih berjalan pelan seperti tersuruk dan sedikit membungkuk dengan senyum damai menyalami  kami satu persatu. Tubuh kurus, kulit keriput mengering, rambut memutih dan bola mata kanannya memutih terlihat seperti katarak. Namanya Kakek Ramang. Dia terus tersenyum seperti behagia menyambut kedatangan kami.

123565

Kakek Ramang di depan rumah kecilnya.

Teman-teman akhirnya berbaur dengan warga. Ada yang melakukan pemeriksaan kesehatan warga, ada yang ikut bercerita dengan Ibu-ibu di balai-balai kayu, bermain dengan anak-anak, ada pula yang mendokumentasikan kegiatan baksos ini dengan mengambil gambar dan selfie.

Aku memilih duduk bersila di samping kiri Kakek yang duduk tanpa alas di atas tanah kering berumput hijau di depan rumahnya.

Kakek, berapa umurta? Tanyaku mencoba memulai komunikasi dengan Kakek Ramang.

Kakek Ramang tidak menjawab. Dia hanya tersenyum menganggukkan kepala.

Tidak mengerti itu dek bahasa begitu. Bahasa Makassarji natau.” Seru daeng Intang, seorang Ibu Rumah Tangga yang juga ikut dalam kelompok ibu-ibu ngerumpi tadi.

Aku sedikit kecewa karena kesulitan berkomunikasi secara langsung dengan kakek Ramang. Beruntung Daeng Emba koordinator kami fasih berbahasa daerah Makassar. Daeng Emba kali ini berperan sebagai penerjemah antara aku dan kakek Ramang. Kulihat percakapan mereka dengan ekspresi haru, sedih, sesekali mereka terdiam.

Apa nabilang daeng?” Tanyaku penasaran.

Jadi kakek Ramang dan Istrinya, baru sekitar 2 tahun tinggal di rumah kecilnya ini setelah mengalami musibah kebakaran di kampung halamannya, di Malakaji. Tidak ada yang tersisa satupun harta bendanya.” Penjelasan Daeng Emba kepada kami yang penasaran dengan kisah kakek Ramang.

Bagaimana ceritanya bisa ke sini daeng? Trus kenapa matanya bisa begitu? Tanyaku lagi.

Daeng Emba meneruskan pertanyaanku ke Kakek Ramang dengan bahasa daerah Makassar. Terlihat seperti wawancara yang dipandu oleh seorang translator. Teman-temanpun ikut menyimak dan terbawa pada kisah hidup Kakek Ramang.

Kakek Ramang hidup berdua saja bersama Istri tercinta setelah 5 anaknya tumbuh dewasa dan memilih hidup mandiri bersama keluarga masing-masing. Meski ana-anaknya telah dewasa, kakek Ramang tidak ingin membebani mereka dengan meminta uang atau bantuan dalam bentuk apapun. Tanpa bekal pendidikan sekolah, kakek Ramang memilih berjuang hidup mencari nafkah dengan memulung atau sesekali membantu orang berkebun.

Kakek Ramang seorang suami dan ayah yang mencintai istri dan anak-anaknya dengan penuh kasih. Di sela-sela kesibukannya mencari nafkah, tersimpan kerinduan anak-anaknya yang tidak dia ketahui di mana keberadaan mereka. Saat istrinya jatuh sakit, Kakek Ramang melakukan apapun demi kesembuhan sang istri.

Suatu hari sang Istri jatuh sakit dan meminta dipetikkan buah mangga dari kebun warga yang tumbuh di belakang rumah mereka. Tanpa pikir panjang, kakek Ramang segera memanjat dan memetik beberapa buah untuk istri tercinta. Keberuntungan tidak berpihak pada kakek Ramang waktu itu. Dia terjatuh dari atas pohon setinggi 3 meter dan kayu kecil menusuk bola mata kanannya. Karena keterbatasan biaya, kakek Ramang memilih membiarkan matanya luka tanpa diobati. Inilah yang menjadi penyebab sehingga mata kanan kakek Ramang tidak bisa melihat sampai saat ini.

Ujian bagi kakek Ramang tidak hanya sampai di situ. Setelah mengalami kebutaan pada mata kanannya, kakek Ramang juga harus mengihlaskan kepergian sang istri yang dicintainya karena sakit. Kakek Ramang tidak tahu penyakit apa yang menyerang istrinya. Sakit sang Istri tidak pernah diperiksakan ke dokter karena keterbatasan ekonomi.

Hidup dengan kegelapan pada sisi kanan indera penglihatannya dan menanggung beban hidup sendiri pada usia yang renta, kesabaran kakek Ramang masih saja diuji oleh Sang Maha Pencipta dengan mengirimkan musibah. Rumah kakek Ramang hangus terbakar tanpa sisa sedikitpun. Kini tak satupun hartanya yang tersisa. Istri, rumah, pakaian, separuh penglihatan, semuanya hilang meninggalkan luka yang menyesakkan dada.

“Ke mana perginya anak-anak kakek Ramang?” Tanyaku dalam hati penuh iba.

Karena tidak memiliki tempat tinggal, kakek Ramang mencoba mencari kehidupan baru di Gowa. Dengan mengumpulkan sampah yang bisa dijual ulang, menumpang di rumah keluarga, berpindah-pindah tempat, hingga pada akhirnya kakek Ramang bertemu dengan Ibu Susilawati (36) yang dengan kerendahan hati mengizinkan kakek membangun rumah kecil pada lahan kosong yang merupakan harta peninggalan Almarhum suaminya, tanpa dibayar sepeserpun. Sungguh hati yang mulia. Di rumah inilah kakek itu melanjutkan perjuangan hidupnya di sisa-sisa usianya.

Haru menyelimuti kami para peserta baksos yang masuk ke dalam cerita kisah kehidupan layaknya sinetron milik Kakek Ramang. Senyum kakek Ramang terlihat sangat damai menceritakan kisahnya.

Itu masa lalunya kakek Ramang. Sekarang Kakek hidup bahagia sama istri kedunya nenek Nurung.” Kata Daeng Emba memecah suasana haru berganti harapan kecil yang sedikit melegakan hati kami, para pendengar.

123593

Anak Hunting Seru Makassar berfoto setelah mendengar kisak kakek Ramang.

Kini Kakek Ramang hidup berdua bersama wanita pujaan hatinya Nenek Nurung. Dengan penghasilan sekitar Rp.10.000 hingga Rp.20.000 perhari, Kakek Ramang dan Istri terus bertahan hidup dengan kesederhanaan dan cinta. Namun tetap saja, di sela-sela cinta yang telah mereka bangun, terselip kerinduan di hati kakek Ramang. Yah, hingga saat ini, belum pernah sekalipun kakek bertemu dengan anak-anak yang dirindukannya. Semoga takdir mempertemukan mereka dalam kerinduan dan cinta yang mendalam.

123564

Nenek Nurung saat memeriksakan kesehatannya.

Bakti sosial ini merupakan pengalaman dan pembelajaran baru buatku. Aku yang selama ini sering mengeluh tentang kehidupan, terkadang lupa mensyukuri apa-apa yang telah kudapatkan dan masih dapat kunikmati hingga saat ini. Bahkan terkadang aku merasa apa yang telah kudapatkan masih sangat kurang. Selalu melihat ke atas, lupa melihat ke bawah. Padahal segala harta dan kesenangan hanyalah sementara. Seperti kisah kakek Ramang, harta, keluarga dan penglihatan yang telah dimiliki dapat diambil oleh Sang pencipta kapan saja.

Tidak  banyak yang kami beri buat kakek Ramang. Namun beliau telah memberikan banyak pembelajaran hidup tentang perjuangan, sabar, ikhlas, rindu, cinta dan harapan.

123577

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Dengarkan musik hits di sini :

Part Of

Masukkan alamat surat elektronik Anda untuk mengikuti blog ini dan menerima pemberitahuan tentang pos baru melalui surat elektronik.

Bergabunglah dengan 17 pengikut lainnya

Instagram

Maaf, videonya rada alay gitu... Song : RESAH - Cover by ME 😎 (Original by @payungteduhofficial )

Music : via Smule 🎤 I wanna know, but I don't wanna ask. Untuk Anda yang ingin lanjut kuliah S2,dan S3 atau Study Tour di Negeri Sakura, Negeri Teknologi, Negeri Animasi ... JEPANG

Insyaallah. 20-26 November 2017
Contact Person: 081354310291 #MCMakassar #MCHijaber #inagaleri #MeandMyHijab #hijabersmakassar #makassarhijabers #instamakassar #makassar #makassarkeren Come 'n join us, Hijabers Makassar

Info : bit.ly/komiteHMM Be happy, be bright, be you

#inagaleri #MeandMyHijab #makassarhijabers #hijabersmakassar
Biru Pupus

Audhina Daw |dawai kata dalam kalimat

PENA BIRU

Catatan Kecil

Pena Biru

Catatan-Catatan Kecil

Sarwendah Moury

Tetap Diam Untuk Jadi Penonton atau Mulai Bergerak Untuk Menjadi Pemain

a s r i a d i

mencatat kehidupan

A+

My life, my soul, my adventure

andi syahriyunita

Architecture and Lifestyle

MZUH BLOG

TRY TO BE GOOD WRITER

Enal D' dactylon

Jadikan Duniamu, Duniaku, Dunia Kita Menjadi Hijau

DaengGassing.com

Ngeblog Dulu, Ngevlog Kemudian

lelakibugis

bermain.. terluka.. tertawa..

Gradasi Ungu dan Jingga

melihat tanpa menyentuh, merasa tanpa meraba

daengmacora

Just another WordPress.com site

Kue Jahe

Menulis, pekerjaan yang tidak pernah selesai.

%d blogger menyukai ini: