Tempat Bulan Madu

Tinggalkan komentar

19 Juni 2016 oleh muteina

Indahhhhhh

Aku kegirangan sendiri sampai tidak sabar menantikan waktu itu tiba. Setelah lebaran kami akan berlibur ke Malino, di Kabupaten Gowa. Sudah terbayang apa-apa saja yang ingin kulakukan saat berada di sana. Menikmati udara dingin nan sejuk, menari bersama kabut putih, memetik bunga mawar yang segar. Sungguh panorama yang menyejukkan hati. Rasa takjubku sepertinya tidak akan pernah habis acapkali berkunjung ke tempat bulan maduku itu. Yah, bulan madu di ramalan cinta masa kecilku.

Waktu itu aku masih duduk di bangku SD. Sejak kecil aku dan sepupuku Ismi memang sangat akrab. Kami bermain, belajar, curhat, bernyanyi dan menikmati hari libur bersama. Sesekali kami mengisi weekend berempat bersama Oom dan Tante (Bapak dan Mamanya Ismi). Mengendarai Hartop cokelat gelap milik Oom, kami menikmati perjalanan menuju sebuah rumah yang jaraknya tidak jauh dari kebun pinus. Rumah Oomku ini memang sengaja dibangun untuk liburan bersama keluarga.

Disaat Oom sibuk dengan kerjaan, tidak ada liburan ke Malino. Namun weekend kami tetap menyenangkan. Aku dan Ismi menghabiskan waktu dengan bermain boneka, lompat karet, masak-masakan, nonton, bernyanyi lagu milik artis cilik Maissy Ci Luk Ba, serta bermain ramalan cinta.

“Siapa teman laki-lakimu yang paling kamu tidak suka?” Tanya Ismi sambil melukis telapak tangan kirinya pada sehelai kertas putih yang baru saja ia sobek dari buku catatan sekolahnya.

Dengan semangat aku menyebutkan 4 (empat) nama teman lelaki sekelasku yang kuanggap nakal dan kerap menggangguku saat belajar. Aku bahkan memasukkan nama Adi temanku yang jahil yang pernah mencium pipiku karena gemas melihat tubuhku yang katanya seperti bayi. Tubuhku memang kecil dan selalu menjadi sasaran kejahilan anak-anak lelaki di sekolahku.

Selain nama teman lelaki yang tidak kusuka, Ismi melanjutkan pertanyaan dengan memintaku memilih  angka-angka kesukaan, Jenis kendaraan, artis idola dan tempat impian. Semuanya telah kujawab dengan penuh harap. Ismi pun mulai sibuk mengeliminasi setiap pilihan dari masing-masing kategori yang akan menjadi masa depanku.

Kami gadis cilik tahun 90-an. Permainan ramalan cinta ini sering kami lakukan tanpa ada rasa bosan sedikitpun. Sayangnya aku tidak bisa mengingat nama-nama yang telah kupilih dalam daftar lelaki yang tidak kusuka, yang sebenarnya kutahu bahwa hasilnya akan menjadi nama pasangan atau jodoh dalam ramalan cinta ini.

Hingga akhirnya pengumuman hasil ramalanpun tiba. Aku tak mampu mengingat seluruh hasil ramalan itu. Namun satu yang paling aku ingat, tempat bulan maduku.

“Tempat bulan madu, selamat membeku, yah… Malino!” Seru sepupuku kegirangan sambil memegangi kertas putih bergambarkan telapak tangan yang dipenuhi coretan tinta hitam.

“Biarmi gang, kusukaji di sana.” Jawabku yang ikut kegirangan sambil membayangkan keindahan Malino.

Tempat impian menjadi tempat bulan madu itu yang paling kuingat di antara semua hasil ramalan cintaku. Aku belum tahu, bulan madu itu seperti apa. Namun Malino memang selalu kujadikan pilihan pertama untuk kategori tempat impian.

Aku selalu membayangkan memiliki rumah di bawah pohon pinus, berdiri di antara bunga-bunga mawar yang segar dan indah. Rerumputan yang juga ikut bahagia karena tumbuh subur menikmati alam yang sejuk, nyanyian merdu jangkrik yang bersembunyi di atas pohon pinus, dan sinar matahari yang mengintip di sela-sela dahan pohon yang rindang.

Saat lelah, aku akan memanjakan diri dengan berendam di mata air bening sambil memandangi air terjun yang sejuk menenangkan hati. Sungguh impian yang sangat indah untuk anak gadis kecil yang masih duduk di bangku SD.

Hidup bahagia di tempat terindah, itulah impian setiap anak-anak saat tumbuh dewasa nanti. Aku waktu itu belum mengenal cinta, belum merasakan indahnya dicintai dan mencintai lawan jenis. Belum pula merasakan sakitnya cinta. Namun aku tahu cinta itu indah. Seperti yang telah kudapatkan dari cinta pertamaku, Bapak. Cinta dan kasih sayang Mama, juga dari saudara dan sahabat-sahabatku.

“Sini, saya lagi yang ramalko!” Aku mengambil pulpen, dan mulai melukis telapak tangan kiriku pada sebuah kertas putih. Ismi mulai menjawab setiap pertanyaan yang sama persis dengan pertanyaan yang ia lontarkan tadi kepadaku.

Ramalan cinta ini sering kami lakukan, mungkin hingga puluhan kali. Setiap giliranku tiba, perasaan berbunga-bunga itu muncul dan membawaku pada imajinasi indah yang ceria tanpa beban sedikitpun.

Aku dan sepupuku waktu itu adalah dua gadis cilik yang bermimpi menjadi Cinderella. Tumbuh menjadi wanita dewasa yang cantik, anggun, santun dan dicintai oleh seorang pangeran impian yang tampan nan baik hati serta hidup bahagia di tempat impian kami, tempat bulan madu kami. Sungguh imajinasi yang sangat indah.

Malino, mungkin sedikit membosankan bagi segelintir orang. Namun hingga saat ini bila ditanya tentang tempat impian, maka Malino akan selalu menjadi pilihan pertamaku, meskipun tidak akan seindah imajinasi bulan madu di masa kecilku.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Dengarkan musik hits di sini :

Part Of

Masukkan alamat surat elektronik Anda untuk mengikuti blog ini dan menerima pemberitahuan tentang pos baru melalui surat elektronik.

Bergabunglah dengan 17 pengikut lainnya

Instagram

HERE THEY ARE !!! 124 komunitas telah resmi terdaftar dalam PESTA KOMUNITAS MAKASSAR 2017 !!!! Sudahkah komunitas kalian bergabung dalam 124 komunitas tersebut ? 
Jika belum, yukksss masih ada kesempatan untuk mendaftarkan komunitas kalian. 
Daftarkan komunitas kece kalian <<< bit.ly/pkm2017-datakomunitas >>> Dan jangan lupa untuk mengirimkan logonya <<< humpubdok@gmail.com >>> Daftarkan segera komunitas kalian dan bergabunglah bersama kami dalam PESTA KOMUNITAS MAKASSAR 2017 !

MARI BERSAMA MERDEKA DENGAN KARYA 👊 Selamat Hari Anak Nasional 2017.
On Festival Anak Makassar 2017 bersama @sobatlemina 👬👬👬👬👭👭👭👭 Kamu akan terlihat sangat manis saat tersenyum. Tersenyumlah... Ini akan jauh lebih baik untukmu, jiwamu dan aku. *eaaaa.... #MCMakassar #meandmyhijab Jam istirahat itu anugerah... Manfaatkan selagi ada kesempatan!!! *Dalih saat ditanya "knp tertidur?" Sebenarnya jawabannya hanya karena kakak muthe "mengantuk." MC on Trend Hijab Expo 2017. #Latepost #MCMakassar #inagaleri 3 Hari lagi... Festival Anak 2017 bersama @sobatlemina . Yuhuuuu!!!!
#HariAnakNasional #VolunteerAnak Aku ingin terus melukis senyum di wajah peneduh jiwaku. Karena itu aku tidak boleh sakit atau lelah sedikitpun. 
Sehat selalu yah jueng... Sakit itu tdk enak... 😂 *MC on Tupperware event. #Latepost #MCMakassar #MCHijaber #inagaleri
Biru Pupus

Audhina Daw |dawai kata dalam kalimat

PENA BIRU

Catatan Kecil

Pena Biru

Catatan-Catatan Kecil

Sarwendah Moury

Tetap Diam Untuk Jadi Penonton atau Mulai Bergerak Untuk Menjadi Pemain

a s r i a d i

mencatat kehidupan

A+

My life, my soul, my adventure

MZUH BLOG

TRY TO BE GOOD WRITER

Enal D' dactylon

Jadikan Duniamu, Duniaku, Dunia Kita Menjadi Hijau

DaengGassing.com

Ngeblog Dulu, Ngevlog Kemudian

lelakibugis

bermain.. terluka.. tertawa..

Gradasi Ungu dan Jingga

melihat tanpa menyentuh, merasa tanpa meraba

daengmacora

Just another WordPress.com site

Kue Jahe

Menulis, pekerjaan yang tidak pernah selesai.

%d blogger menyukai ini: