Bapak dan Masjid Nurul Ismi

2

12 Juni 2016 oleh muteina

Bapak

Bapak setelah shalat berjamaah di Masjid Nurul Ismi.

Namanya Baharuddin Hamid, seorang pria paruh baya dengan tubuh kurus kulit kecokelatan, mengenakan baju batik dipadukan dengan sarung bermotif kotak berwarna gelap, dan peci hitam di kepalanya. Dia duduk pada sebuah kursi memegangi Alquran dengan ukuran yang hampir sama dengan TV 21″ . Kerutan kecil di antara kedua alisnya nampak jelas di balik kacamata bening yang dia kenakan.

Kupanggil dia Bapak, Seorang pria yang paling berjasa dalam hidupku dan saudara-saudaraku. Dia telah mengerahkan seluruh waktu, tenaga, materi dan cintanya untuk membesarkan kami. Memiliki 8 orang anak tentu menjadi satu perjuangan besar bagi Bapak didampingi oleh seorang wanita berdarah bugis yang telah disunting menjadi istri penyejuk hatinya, Andi Rostimah yang kami panggil dengan sebutan “Mama”. Bapak dan Mama telah mendidik dan membesarkan kami hingga dewasa sampai saat ini.

“Allahu Akbar Allahu Akbar”

“Allahu Akbar Allahu Akbar”

“Asyhaduanla Ilaaha Illallah”

“Asyhaduanla Ilaaha Illallah”

Suara adzan dari masjid yang berada tepat di samping rumah menghentikan bapak membaca ayat-ayat Alqur’an. Dia berdiri merapikan baju dan sarungnya lalu beranjak menuju sumber suara adzan. Seperti inilah penampilan dan aktivitas bapak setiap hari. Bapak adalah seorang Imam pada masjid Nurul Ismi yang juga telah menjadi bagian dari kisah hidup kami.

Memasuki bulan suci Ramadan, tentu akan membuat Bapak sedikit sibuk. Jika di hari biasa, setelah Isya Bapak segera pulang ke Rumah. Kali ini waktunya dihabiskan dengan tarawih, witir dan dilanjutkan dengan tadarrus. Kesibukannya ini yang membuat kami khawatir mengingat kondisi kesehatan Bapak yang tidak stabil setiap berpuasa. Sudah puluhan tahun Bapak mengidap Diabetes Melitus. Penyakit ini membuat gula darahnya Kadang naik kadang turun. Tahapak sempat tidak sadarkan diri dikarenakan gula darahnya yang turun drastis.

Meski dirudung penyakit, aktivitasnya terus berjalan hingga saat ini, kecuali berkantor. Yang kuingat, semasa hidup bapak sebelum pensiun, dihabiskan di tempat kerja, rumah dan masjid Nurul Ismi. Bapak dan masjid ini sepertinya memang sulit untuk dipisahkan.

Masjid yang jaraknya hanya satu meter lebih dari tembok rumah kami ini sudah ada sejak aku duduk di bangku SD. Merupakan Hibah dari Paman setelah pulang dari tanah suci Mekkah. Kami dan warga setempat tentunya merasa bersyukur mengingat lokasi rumah yang sangat jauh dari masjid. Rumah kami waktu itu masih dikelilingi rawa dan sawah sehingga ada ketakutan bagi kami bila ingin bepergian termasuk ke Masjid terdekat yang lumayan jauh.

Menjadi Imam dan mengurusi masjid waktu itu bukanlah hal yang baru bagi Bapak. Di masa mudanya, Bapak juga menghabiskan waktu menjadi seorang remaja masjid di Masjid Raya Makassar. Pemahaman tentang agama, dan hafalan surah-surah serta ilmu tajwid Bapak dapatkan dari pengalamannya menjadi seorang remaja masjid. Pengetahuan itulah yang dia wariskan kepada kami anak-anaknya dan dia terapkan di masjid Nurul Ismi.

Aku masih ingat shalat berjamaah pertama di masjid itu. Waktu itu Mama membangunkaku dari tidur yang lelap setelah begadang menyaksikan bapak mengaduk-aduk campuran semen dan pasir, meratakan laintai masjid tanpa tegel putih seperti lantai pada masjid-masjid lainnya.

“Innah, ayok shalat subuh di masjid sama Bapak.” Kata Mama samar-samar terdengar di telingaku.

Menyadari bahwa Mama mengajak shalat subuh di tempat yang berbeda, membuat kantukku hilang seketika. Shalat subuh dengan udara dingin yang menusuk serta suasana senyap diramaikan dengan nyanyian katak yang bersembunyi di rerumputan rawa.

Lantai berbahan semennya sebahagian mulai mengering setelah semalaman diratakan oleh Bapak seorang diri. Masjid beratapkan seng tanpa dinding itu kami jadikan tempat beribadah tanpa pengeras suara. Bapak sebagai Imam, Aku dan Mama sebagai makmum, dan Adikku Akbar yang mengumandangkan Adzan.

Aktivitas ini terus kami lakukan setiap hari pada subuh, ashar, magrib dan isya. Waktu duhur selalu terlewatkan dikarenakan Bapak yang masih berada di kantor.

“Sebentar bersihkan lagi masjid, nah!”

Kalimat Bapak yang hampir setiap hari diucapkan sebelum berangkat ke kantor, mengingatkan agar aku dan saudara-saudaraku tidak pernah lupa untuk membersihkan masjid itu.

Karena wujudnya yang sangat sederhana tanpa dinding, masjid baru itu kerap terlihat kotor bahkan dipenuhi kotoran ayam yang berkeliaran. Membersihkan dan mengurusi masjid serta merta telah menjadi rutinitas kami. Bukan tanpa pamrih, kami membersihkan masjid dengan berharap mendapat imbalan tambahan uang jajan dari Bapak sepulang kantor. Semakin bersih, semakin banyak pula tambahan jajan yang kami dapatkan dari Bapak.

Saat Ramadan tiba, kami memilih buka puasa dan tarwih bersama warga di masjid itu. Tidak ada penceramah di sela-sela isya dan tarwih kami. Sesekali Bapak mengisi kekosongan dengan berpetuah santai untukku dan anak-anak lainnya, atau tadarrus bersama sambil menikmati hembusan angin malam Ramadan. Aku yang tidak mampu menutupi rasa cemburuku terhadap masjid-masjid lain yang diramaikan oleh penceramah mulai mengeluh.

“Kenapa tidak ada penceramah di sini, Pak?” Tanyaku sambil merapikan mukenah yang terbuka namun masih menempel di kepala sehingga terbentuk seperti mahkota yang menjuntai panjang ke belakang.

“Besok pi, mudah-mudahan ada ustad Zaini datang tarwih di sini.” Jawab bapak sambil berlalu meninggalkanku yang sedang asik bermain dengan saudara dan teman-teman di masjid.

Ustad Zaini (Almarhum) adalah sahabat bapak yang ikut ambil bagian dalam pengerjaan pembangunan masjid Nurul Ismi dari pemasangan batu pertama hingga waktunya di dunia telah habis dan lebih dulu menghadap Allah SWT. Semoga Allah Ta’ala merahmatinya.

Waktupun berlalu hingga pada akhirnya suasana mulai berubah. Bangunan demi bangunan mulai bertambah, jalan beraspal mulai dibangun, penerang jalan kini menyelimuti kegelapan meninggalkan keheningan yang damai.

Kost-kostan makin menjamur, mahasiswa dari berbagai daerah kini menjadi mayoritas di daerah kami. Masjid Nurul Ismi yang dulunya sepi kini berubah menjadi ramai layaknya masjid-masjid yang ada di kompleks padat penduduk. Remaja masjidpun satu-persatu berdatangan.

Apakah Bapak akan berhenti dan beristirahat di Ramadan tahun ini? Jawabannya tidak. Bapak sejak dulu hingga kini terus menggantungkan hati dan membagi cintanya antara kami keluarganya dengan Masjid. Dalam acara-acar keluarga, Bapak terkadang memilih pulang lebih cepat ketimbang meninggalkan waktu shalat tarawih berjamaah di Masjid yang telah menjadi bagian hidupnya itu. Tidak pernah sedikitpun Bapak menceritakan apa yang telah dia lakukan kepada orang-orang bahkan kepada kami anak-anaknya.

Bapak dan Masjid Nurul Ismi….

Kita berada pada zaman dimana manusia bekerja karena alasan dunia: upah, harta, tahta, figuritas. Sosoknya, yang begitu sederhana mencerminkan kebeningan hati yang tulus. Ia bekerja tanpa digaji, tanpa menjadi sorotan, bahkan bagi segelintir masyarakat ini adalah sebuah kesibukan yang tak ternilai.

Berangkat dari sini, kisahnya mengingatkanku tentang sosok “Mihjan” seorang sahabat di zaman Rasulullah SAW yang pada saat itu selalu mengurus masjid. Rasulullah mencari-carinya saat ia tak melihat Mihjan lagi, ternyata ia telah meninggal. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallampun mendo’akannya. Ia adalah sosok yang dicari oleh Rasulullah, meskipun di zaman ini pencinta masjid bukanlah sosok yang dicari.

Teringat pula dengan sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tentang tujuh pemuda yang dinaungi di hari kiamat saat tidak ada naungan kecuali naungan Allah, diantaranya adalah pria yang terpaut hatinya dengan masjid. Yah, pria yang mencintai masjid.

Sosok Bapak, yang menghabiskan masa mudanya hingga masa tuanya di Masjid, semoga Allah meridhahinya. Aamiin Aamiin Aamiin Allahumma Aamiin.

Iklan

2 thoughts on “Bapak dan Masjid Nurul Ismi

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Dengarkan musik hits di sini :

Part Of

Masukkan alamat surat elektronik Anda untuk mengikuti blog ini dan menerima pemberitahuan tentang pos baru melalui surat elektronik.

Bergabunglah dengan 17 pengikut lainnya

Instagram

HERE THEY ARE !!! 124 komunitas telah resmi terdaftar dalam PESTA KOMUNITAS MAKASSAR 2017 !!!! Sudahkah komunitas kalian bergabung dalam 124 komunitas tersebut ? 
Jika belum, yukksss masih ada kesempatan untuk mendaftarkan komunitas kalian. 
Daftarkan komunitas kece kalian <<< bit.ly/pkm2017-datakomunitas >>> Dan jangan lupa untuk mengirimkan logonya <<< humpubdok@gmail.com >>> Daftarkan segera komunitas kalian dan bergabunglah bersama kami dalam PESTA KOMUNITAS MAKASSAR 2017 !

MARI BERSAMA MERDEKA DENGAN KARYA 👊 Selamat Hari Anak Nasional 2017.
On Festival Anak Makassar 2017 bersama @sobatlemina 👬👬👬👬👭👭👭👭 Kamu akan terlihat sangat manis saat tersenyum. Tersenyumlah... Ini akan jauh lebih baik untukmu, jiwamu dan aku. *eaaaa.... #MCMakassar #meandmyhijab Jam istirahat itu anugerah... Manfaatkan selagi ada kesempatan!!! *Dalih saat ditanya "knp tertidur?" Sebenarnya jawabannya hanya karena kakak muthe "mengantuk." MC on Trend Hijab Expo 2017. #Latepost #MCMakassar #inagaleri 3 Hari lagi... Festival Anak 2017 bersama @sobatlemina . Yuhuuuu!!!!
#HariAnakNasional #VolunteerAnak Aku ingin terus melukis senyum di wajah peneduh jiwaku. Karena itu aku tidak boleh sakit atau lelah sedikitpun. 
Sehat selalu yah jueng... Sakit itu tdk enak... 😂 *MC on Tupperware event. #Latepost #MCMakassar #MCHijaber #inagaleri
Biru Pupus

Audhina Daw |dawai kata dalam kalimat

PENA BIRU

Catatan Kecil

Pena Biru

Catatan-Catatan Kecil

Sarwendah Moury

Tetap Diam Untuk Jadi Penonton atau Mulai Bergerak Untuk Menjadi Pemain

a s r i a d i

mencatat kehidupan

A+

My life, my soul, my adventure

MZUH BLOG

TRY TO BE GOOD WRITER

Enal D' dactylon

Jadikan Duniamu, Duniaku, Dunia Kita Menjadi Hijau

DaengGassing.com

Ngeblog Dulu, Ngevlog Kemudian

lelakibugis

bermain.. terluka.. tertawa..

Gradasi Ungu dan Jingga

melihat tanpa menyentuh, merasa tanpa meraba

daengmacora

Just another WordPress.com site

Kue Jahe

Menulis, pekerjaan yang tidak pernah selesai.

%d blogger menyukai ini: