Baper : Bawa Perasaan di PKM

3

5 Juni 2016 oleh muteina

230 pesan belum terbaca. Angka berwarna merah pada akun pribadi media sosial Line ini membuatku tersenyum tipis di pagi yang cukup melelahkan. Bersandar pada jejeran 3 buah bantal berwarna merah muda, dengan selimut tebal masih menutupi kaki hingga pinggangku. Kuperbaiki posisi duduk sambil memegangi laptop yang sejak tadi menempel di pangkuanku.

Kembali kutatap angka 230 berwarna merah pada monitor. Ini bukan hal yang baru, pemberitahuan seperti ini sudah sering terjadi setiap memasuki bulan April hingga Juni sejak 2014 lalu. Sejak itu pula, saya mulai terbiasa dengan suara berisik pemberitahuan yang tidak kunjung berhenti sepanjang hari.

Adakah kerinduan?”

Baaakkhhh!”

Ada yang rindu sama saya?”

Tidak ji!”

Bakhhh

Percakapan terakhir pada group Komunitas Makassar yang beranggotakan 191 orang tersebut. Group komunitas yang sudah ada sejak tahun 2013 ini memang tidak pernah sepi. Bila diingat dari tahun pertama hingga sekarang, group ini memang selalu memberikan manfaat. Mulai dari teman, hiburan, diskusi hingga permasalahan perasaan telah aku dapatkan di sana. Seandainya semua anggota bertahan, mungkin penghuninya sudah mencapai angka 1000. Namun kita ketahui bahwa group Line hanya mampu menampung 200 orang, sehingga banyak yang memilih keluar dari group. Bukan karena merasa terganggu, namun dengan alasan untuk memberi kesempatan kepada muda-mudi baru bersinergi dalam group besar Komunitas Makassar tersebut.

“Terimakasih PKM, telah mempertemukan kami, #Panitia PAM (Pentas Anak Makassar).”

Satu pesan lagi yang dilanjutkan dengan sebuah gambar 3 wanita dan seorang pria. Yah aku mengenali pengirim gambar itu. Iyn salah satu sahabatku dari Komunitas Malam Sureq yang selama ini sering mengeluhkan tentang kondisi PKM 2016. Sedikit legah bila pada akhirnya kembali mendengar cerita-cerita membahagiakan tentang PKM, termasuk dari seorang Iyn yang kukenal sering mengeluarkan kritikan yang terkesan pedas, judes, namun masuk akal. Sehingga tidak jarang panitia menjadi baper (terbawa perasaan).

PKM tahun ini penuh dengan drama dan sarat akan perasaan. Aku melihat dan merasakan sendiri suasana dramatis itu. Mulai dari perbedaan pendapat yang dilanjutkan dengan adu argumen yang menegangkan dan berkepanjangan, problem demi problem yang menjadi batu kerikil tajam yang harus dilalui, hingga permasalahan cinta. Kalau soal hambatan dan cinta itu bukanlah hal yang baru bagiku. Tapi adu argumen hingga saling baper yang berkepanjangan menurutku bukan lagi menjadi warna dalam teamwork, tapi bisa menjadi tembok pemisah antara satu dengan yang lain.

Prihatin, inilah yang sempat aku rasakan menjelang hari H pada acara tersebut. Rasa ini makin memuncak setelah mendengar berbagai keluhan dari para sahabat yang mulai risih dengan suasana dramatis layaknya film layar lebar ini.

“Wajar kak, itu berarti teman-teman punya rasa memiliki yang tinggi terhadap PKM.”

Kata Fanda perwakilan dari Komunitas Pecinta Iguana yang juga sebagai Ketua Panitia PKM 2016, saat menanggapi masalah baper dalam kepanitiaan yang sebahagian besar diisi dengan wajah-wajah baru ini.

Cerita bak drama semakin menjadi hingga hari yang dinanti. Pesta Komunitas Makassar 2016 berlangsung selama dua hari, 21-22 Mei 2016 di Anjungan Pantai Losari Makassar. Dengan mengusung tema ‘Kreativitas Tanpa Batas’, tentu yang muncul di benak kita adalah sesuatu yang berbeda dan fantastis.

“Seperti apa kemeriahan PKM tahun ini?”

“Kejutan apa yang akan kita dapatkan di sana?”

“Akankah PKM tahun ini menjadi momen yang dirindukan seperti tahun-tahun kemarin?” Tanyaku dengn penuh rasa penasaran.

Hari pertama, Pesta Komunitas Makassar hampir sama dengan tahun-tahun sebelumnya. Berbagai booth komunitas yang berkreasi, panggung kolaborasi dan UKM-UKM kreatif kita temukan di sana. Tidak ada yang berbeda selain lokasi dan wajah-wajah baru yang berperan dalam menyukseskan kegiatan ini.

Sebagai MC, tugasku adalah menjadikan acara ini lebih hidup dan meriah meskipun sebenarnya berbicara heboh sendiri.

“Apresiasi yang luar biasa kepada para panitia yang telah berhasil mengumpulkan 280 Komunitas Kreatif di Makassar. Wooow!”

Seruanku bersama MC lainnya di bawah terik mentari siang. Cukup melelahkan. Aku bahkan tidak menyangka bisa  setangguh itu, woro-wiri dari pagi hingga magrib menjelang. Sepanjang acara berlangsung, selama itu pula aku menanti kejutan yang mungkin menjadi momen yang takkan terlupakan, atau yang bisa membuatku baper.

Malam yang ditunggu tiba. Kali ini giliranku untuk beristirahat dan beralih menjadi penonton. Duduk tepat di depan panggung dan berbaur dengan para muda-mudi lainnya. Diawali dengan pembukaan secara langsung oleh Kepala Dinas Pariwisata & Ekonomi Kreatif Kota Makassar, Rusmayana Majid. Dilanjutkan dengan penampila dari berbagai komunitas kreatif Makassar.

Harus kuakui penampilan mereka mengagumkan. Tapi entah mengapa aku seperti mencari sesuatu yang sulit kubahasakan. Aku terdiam di antara gemuruh dari para penonton yang merasa takjub akan apa yang telah ditampilkan malam itu.

“Di mana kejutan itu?” Aku masih mencari sesuatu yang juga tidak kupahami. Apa yang kutunggu. “Bukankah pertunjukan malam ini sangat keren? Apa yang aku cari?”

Pertanyaan ini terus mengusikku di malam pertama hingga malam ke dua.  Jam demi jam, detik demi detik, aku kembali duduk di antara para penonton dan menantikan kejutan-kejutan yang disajikan pada malam puncak ini. Semuanya riuh, tertawa, bahagia, bahkan ada yang terharu. Sedikit kesal sama diri sendiri karena belum menemukan apa yang kucari.

“Apa hanya aku yang aneh?” Tanyaku dalam hati sambil menahan rasa kantuk.

Pukul 09.30 Wita, menandakan kita telah tiba di penghujung acara. Sudah bisa kutebak siapa yang akan tampil untuk menutup acara ini, The Maczman. Para supporter PSM Makassar yang identik dengan kostum berwarna merah ini kembali mengisi acara setelah memberi kesan indah pada PKM tahun lalu. Suara drum dan nyanyian penyemangatnya tahun lalu berhasil membius para penonton untuk ikut bergoyang.

Tim keamanan mulai sibuk, Aku berdiri mengambil posisi yang kuanggap paling aman agar terhindar dari senggolan para penonton yang akan ikut bersorak. Nyanyian-nyanyian mulai terdengar. Gerakan demi gerakan mulai ditiru oleh para penonton.

“Di mana kejutan itu?” Kembali bertanya sambil menikmati rasa kesal dalam hati.

Mereka bersorak sambil melakukan gerakan secara serentak. Tidak ketinggalan wajah-wajah panitia yang ikut menari penuh kebahagiaan yang mereka ekspresikan sambil mengikuti irama musik.  Kebahagiaan itulah yang tahun lalu sempat aku rasakan. Senyum seperti itulah yang telah aku dapatkan sebelumnya.

Aku masih ingat, waktu itu para penonton, panitia, tim keamanan dan steering commite berbaur, bersorak dan menikmati gerakan sambil bergandengan tangan. Pemandangan yang sangat indah, dimana tidak lagi nampak perbedaan antara manusia satu dengan yang lain. Semuanya berpesta seolah memperlihatkan seperti inilah anak muda makassar yang bersinergi dan berkolaborasi dalam satu aksi. Lagi, aku mengenang dan merindukan PKM tahun lalu.

“Lantas mengapa malam ini aku tidak ikut bersorak? Apa karena aku yang kurang peka?”

Tidak ada kerinduan berarti yang aku rasakan. seperti tahun-tahun sebelumnya. Mungkin memang benar kita sudah sampai ke titik jenuh. Bila jenuh maka yang dibutuhkan adalah istirahat sampai kerinduan itu datang kembali.

Kemeriahan semakin menjadi. Kembali kutatap wajah dan tawa para panitia satu persatu yang penuh keceriaan. Mereka terlihat bahagia.  Tanpa sadar aku hampir melewatkan satu pemandangan yang di luar dugaanku. Mereka berbaur. Yah, mereka berbaur dan berbahagia melupakan ketegangan yang sempat terjadi beberapa hari sebelumnya.

Mereka saling berpengangan tangan, tertawa lepas, seolah tidak pernah terjadi perbedaan pendapat yang berkepanjangan di hari-hari kemarin.  Senyuman mereka seolah berbicara:

Hay kaka. Merasa jenuh? Kalau begitu istirahatlah sampai kaka kembali merindukan PKM. Namun jangan sampai kejenuhan kaka justru menghalangi kami untuk ikut merasakan kebahagiaan seperti yang pernah kaka rasakan. Izinkan kami merasakan indahnya bersinergi, berkolaborasi, berkreasi dan merasakan kerinduan itu. Rindu terhadap PKM.

Harus kuakui, suasana ini berhasil membuatku baper, membawa perasaan. Menyadari satu hal, Pesta Komunitas Makassar kali ini berhasil menyatukan para pemuda Makassar dengan melunturkan segala beda dan keegoan yang ada. Ini dia kejutan yang kucari. Sungguh pemandangan yang indah. Dan Aku baper.

Alunan musik dan tarian terus berlanjut dan aku masih menyaksikan pemandangan itu. Mereka terus menari menyatu dengan para penonton. Mereka bahagia, mereka berpesta, mereka merasakan persaudaraan itu dan mungkin akan menjadi momen yang mereka rindukan.

“Adakah kerinduan?”

Sebuah pesan dalam group membuatku tersadar dari ingatanku tentang PKM malam itu. Tidak ada waktu untuk memperhatikan nama-nama pengirim pesan tentang kerinduan itu. Sepertinya aku telah melewatkan perbincangan seru malam tadi. Mengirim stiker tanpa membaca isi percakapan group yang saya lewatkan adalah kebiasaanku. Mengirim stiker memang cara yang paling aman agar tidak nampak Out Of The Topic (OOT). Cara ini juga merupakan cara yang baik untuk mengekspresikan diri yang sedang baper. Entah itu perasaan sedih atau perasaan senang.

Pesta Komunitas Makassar. Semoga di Tahun selanjutnya senyum dan kerinduan itu kembali tercipta.

 

*Tulisan ini diikutsertakan pada lomba yang diadakan Komunitasmks.org

Iklan

3 thoughts on “Baper : Bawa Perasaan di PKM

  1. Nurfaisyah berkata:

    …dan saya jadi baper setelah menyelam diantara paragraf-paragraf di atas.

    Suka

  2. […] muteina.wordpress.com dengan poin 818. […]

    Disukai oleh 1 orang

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Dengarkan musik hits di sini :

Part Of

Masukkan alamat surat elektronik Anda untuk mengikuti blog ini dan menerima pemberitahuan tentang pos baru melalui surat elektronik.

Bergabunglah dengan 17 pengikut lainnya

Instagram

HERE THEY ARE !!! 124 komunitas telah resmi terdaftar dalam PESTA KOMUNITAS MAKASSAR 2017 !!!! Sudahkah komunitas kalian bergabung dalam 124 komunitas tersebut ? 
Jika belum, yukksss masih ada kesempatan untuk mendaftarkan komunitas kalian. 
Daftarkan komunitas kece kalian <<< bit.ly/pkm2017-datakomunitas >>> Dan jangan lupa untuk mengirimkan logonya <<< humpubdok@gmail.com >>> Daftarkan segera komunitas kalian dan bergabunglah bersama kami dalam PESTA KOMUNITAS MAKASSAR 2017 !

MARI BERSAMA MERDEKA DENGAN KARYA 👊 Selamat Hari Anak Nasional 2017.
On Festival Anak Makassar 2017 bersama @sobatlemina 👬👬👬👬👭👭👭👭 Kamu akan terlihat sangat manis saat tersenyum. Tersenyumlah... Ini akan jauh lebih baik untukmu, jiwamu dan aku. *eaaaa.... #MCMakassar #meandmyhijab Jam istirahat itu anugerah... Manfaatkan selagi ada kesempatan!!! *Dalih saat ditanya "knp tertidur?" Sebenarnya jawabannya hanya karena kakak muthe "mengantuk." MC on Trend Hijab Expo 2017. #Latepost #MCMakassar #inagaleri 3 Hari lagi... Festival Anak 2017 bersama @sobatlemina . Yuhuuuu!!!!
#HariAnakNasional #VolunteerAnak Aku ingin terus melukis senyum di wajah peneduh jiwaku. Karena itu aku tidak boleh sakit atau lelah sedikitpun. 
Sehat selalu yah jueng... Sakit itu tdk enak... 😂 *MC on Tupperware event. #Latepost #MCMakassar #MCHijaber #inagaleri
Biru Pupus

Audhina Daw |dawai kata dalam kalimat

PENA BIRU

Catatan Kecil

Pena Biru

Catatan-Catatan Kecil

Sarwendah Moury

Tetap Diam Untuk Jadi Penonton atau Mulai Bergerak Untuk Menjadi Pemain

a s r i a d i

mencatat kehidupan

A+

My life, my soul, my adventure

MZUH BLOG

TRY TO BE GOOD WRITER

Enal D' dactylon

Jadikan Duniamu, Duniaku, Dunia Kita Menjadi Hijau

DaengGassing.com

Ngeblog Dulu, Ngevlog Kemudian

lelakibugis

bermain.. terluka.. tertawa..

Gradasi Ungu dan Jingga

melihat tanpa menyentuh, merasa tanpa meraba

daengmacora

Just another WordPress.com site

Kue Jahe

Menulis, pekerjaan yang tidak pernah selesai.

%d blogger menyukai ini: