Inilah Nelayan Kota Daeng

1

29 April 2016 oleh muteina

13087695_10204538173452968_5287741667542730370_n

Sekali layar terkembang! Pantang biduk surut ke pantai!.

Keheningan yang syahdu di subuh hari, Daeng Ga’ma berjalan dengan topi yang pudar warnanya. Baru saja ia meninggalkan anak dan istrinya yang tertidur pulas di rumah sederhananya  di Kabupaten Takalar menuju perairan ‘Kota Daeng’ Makassar dengan sebuah perahu kecil. Seorang ayah usia lanjut yang menafkahi 11 anak penyejuk jiwa dan istri tercintanya yang sentiasa tulus melayani dan memadu kasih dengannya, meski harus menerima kesederhanaan hidup sang suami sebagai seorang pembelah lautan.

Daeng Ga’ma dengan  tubuh kurus kriput menarik putaran mesin hingga baling-baling bunyi dengan menggema. Tulang-tulangnya yang mulai layu termakan usia tak jua melelahkan semangatnya mencari nafkah di lautan lepas yang jauh dari kediaman dan keramaian, laut luas yang terhubung hingga ke samudera luas. Ia duduk sendirian dengan tenang menikmati damainya waktu saat manusia mulai terlelap, saat udara begitu dingin menusuk, pukul 22.30 WITA.

Daeng Ga’ma ialah seorang Nelayan dengan usia 55 tahun. Profesi yang menantang ini telah ia geluti sejak kecil di usia 10 tahun. Menyusuri lautan lepas dengan kapal kecilnya adalah makanan sehari-hari nya. Merasakan cuaca tropis lintang kathulistiwa adalah hal yang biasa bagi sosok Nelayan. Ada kalanya merasakan teriknya mentari yang membakar, ada kalanya menerobos badai hujan yang di temani oleh hentakan petir dan guntur. Merasakan kerasnya ombak dan dinginnya malam yang menusuk hingga ke tulang-tulang.

13125000_10204538174933005_4687535100795519500_n

Daeng Ga’ma

Daeng Ga’ma memandang bintang yang bertebaran dan rembulan yang bersinar. Kapal berlabuh semakin kencang membelah lautan, disertai dengan angin keras yang amat menusuk. Tak lama berselang, perahu berada ditengah lautan dan daratan terlihat amat jauh, yang ada hanya 1 lampu cas penerang di tengah-tengah lautan lepas. Tak ada rasa takut atau khawatir tersirat di hati, yang ada hanyalah rasa dan berharap ikan berbondong-bondong menyambutnya. Yah, Inilah rutinitas Daeng Ga’ma tiap harinya, bangun di saat manusia mulai mengangkat selimut, dan ia mulai membanting tulang mengais rezki untuk sanak keluarga besarnya yang terlelap bersama mimpi-mimpinya.

Sejam perjalanan kemudian melewati pulau Lae-lae kemudian Pulau Samalona, kemudian melewati Pulau Sapola hingga Kadongare dan sampailah pada Perairan Langkae yang kedalamannya mencapai puluhan meter dengan waktu 3 jam perjalanan. Terlihat beberapa cahaya kecil di sebelah barat maupun timur. Ternyata nelayan lain sudah beraksi pula.

Pukul 02.00 dini hari, Daeng Ga’ma mulai menyiapkan pancing untuk menangkap ikan yang akan berlalu-lalang di bawah sinar rembulan di lautan Pulau Kadongare, bersiaga memandang permukaan laut. Daeng Ga’ma kemudian melempar tali pancing ke lautan sebagai jebakan menangkap ikan.

Ada yang menarik dari sosok Daeng Ga’ma, jika kebanyakan nelayan menangkap ikan dengan bantuan jaring yang besar, Daeng Ga’ma setia dengan pancingnya yang terbilang cukup manual dan amat lama menunggu untuk mendapatkan ikan yang banyak.

Daeng Ga’ma adalah sosok pekerja keras dan mencintai lautan. Perahu putihnya kecil yang sangat ia sayangi tak memilki ruang untuk menempati berton-ton ikan, meski demikian ia tetap senang dan setia dengan perahunya. Ia begitu menikmati memancing ikan di Perairan Langkae. Rasa lapar yang menghantui membuat Daeng Ga’ma berinisiatif membakar dua ekor ikan untuk santapannya. dan setelah lelah menghampiri, Daeng Ga’ma beristirahat di pulau-pulau kecil yang ia lalui, hingga esok datang ia kembali memancing Ikan di Perairan Langkae.

13102695_10204538175493019_1836465712208571892_n

Kapal kecil milik Daeng Ga’ma

Singkat cerita, berselang tiga hari. ikan hasil tangkapan ternyata lumayan banyak, daeng Ga’ma mengawetkannya dengan es balok, sementara ufuk mulai menampakkan tanda-tanda kedatangan mentari. Segera Daeng Ga’ma menyiapkan perlengkapannya untuk kembali ke Makassar. Beradu dengan dinginnya udara dan beratnya muatan. Yah, sungguh tidak diragukan lagi, perkerjaan Nelayan memang idealnya adalah lelaki. Butuh tenaga ekstra, mental dan fisik yang kuat untuk berlayar di tengah lautan.

Kurang lebih 1 gabus besar jumlah karunia ikan yang diraih hari ini oleh Daeng Ga’ma. Mesin putar berbunyi kencang, segera Daeng Ga’ma merubah haluan membalikkan kapal kembali ke sandaran kota Daeng. Udara yang tadinya dingin menusuk kini berubah menjadi hangat, tepat pukul 07.00 WITA. Kapal mini ini tak memiliki atap, kini harus berjemur-jemuran dengan mentari pagi.

Perahu menuju Kota Makassar, yang kini semakin nampak jelas keindahannya karena cerahnya pandangan. Kota Makassar memiliki lautan yang luas dan kekayaan organisme di dalamnya. Anugerah yang tentu harus di syukuri. Profesi nelayan adalah kebanggan Daeng Ga’ma sebagai seorang yang lahir di “kota Daeng” Kota Makassar.

Perahu mulai bersandar di pelabuhan Pasar Lelong. Sebuah pasar Ikan yang terletak di pinggir Kota Makasssar. Pasar mulai ramai dengan kedatangan nelayan lain yang sama-sama berjuang mengaiz rezeki di tengah laut. Masyarakat pribumi mulai berdatangan ribut menawar harga ikan ditengah-tengah basah dan becek, berhiaskan aroma kurang sedap khas pasar ikan.

13055456_10204538173932980_3392191392942675003_n

Aktivitas para nelayan beserta para pengangkut ikan

Kubawami ini?” Seorang lelaki berbaju merah basah kuyup menyambut kedatangan Daeng Ga’ma.

Iyo, bawakanga’ dulu!” jawan Daeng Ga’ma.

Seorang pria yang berprofesi sebagai pengangkat muatan ikan ke stan pasar itu bernama Rauf. Dia adalah pria berumur 45 tahun yang sejak kecil sebagai pengangkat ikan para nelayan .

Rauf meraih gabus besar yang berisi ikan yang sangat banyak kemudian meletakkan di pundaknya. dengan gesit ia kemudian berjalan melewati genangan-genangan air dan menaiki tangga. Segera ia membawa muatan ikan ke stan penjualan untuk menjualnya pada warga-warga yang mulai berdatangan. Tak Nampak keletihan pada raut wajahnya, ia nampak semangat sambil menyapa nelayan dan pedagan lain yang ia lewati satu persatu.

13092183_10204538172732950_1446339366007996142_n

Rauf seorang pengangkut ikan hasil tangkapan para nelayan

13118863_10204538189693374_6276036568896922156_n

Tiap harinya Rauf bekerja di Pasar Lelong. Bau amis yang begitu menyengat tidak menjadi keluhan baginya. Bajunya basah kuyup akibat tumpahan-tumpahan air ikan yang memandikan badannya tak kala membawa ikan-ikan di pundaknya.

Sebuah profesi yang rendah bagi sebagian mata khalayak dan tak patut tuk dibanggakan. Jangan kira mudah, memang amat berat nan menantang, apa lagi Daeng Ga’ma pulang dengan bau yang luar biasa. Bau ikan bercampur keringat ditimpa panas matahari dan  kini harus bekerja lagi, menjualnya ikan-ikannya di pasar lelong.

Ada Ikan bolu ta’ Daeng?” Tanya seorang pembeli dengan menggunakan hijab besar sambil menyentuh perut ikan-ikan hasil tangkapan Daeng Ga’ma.

Aih, tidak ada. Ikang lautji ini.” Jawab daeng Ga’ma dengan logat khas Makassarnya.

Ria Mardiah seorang Mahasiswi Universitas Islam Negeri (UIN) Alauddin Makassar yang sering membeli ikan di Pasar Lelong, hari ini memilih untuk memasak ikan bolu untuk santapan bersama keluarganya. Memang harga ikan di pasar Lelong sedikit ekonomis, memberi kesempatan untuk menyisihkan uang atau digunakan untuk keperluan lainnya. Karena ikan yang Ria cari tidak dimiliki oleh Daeng Ga’ma, Ria beranjak mencari penjual lainnya untuk menemukan ikan yang ia cari untuk keluarganya di rumah.

13083220_10204538172252938_5703815975987065647_n (1)

Meski beberapa pengunjung enggan membeli ikan hasil tangkapan Daeng Ga’ma, hal ini tidak menyurutkan hatinya untuk terus bersabar sembari berharap dan menanti pembeli lainnya.

Sambil melayani para pengunjung lainnya, Daeng Ga’ma meletakkan ikan di dalam gabus besar disertai dengan pecahan es batu agar ikan tetap segar. Satu persatu pelanggan menengok, melihat, bertanya, dan membeli. Tak terbesitpun rasa jijik, Daeng Ga’ma menikmati dirinya bersua dengan ikan-ikan. Sesekali menyiram ikan-ikan dengan air es, menggabungkan yang sama jenis. Hingga bajunya basah, kotor, dan berbau.

13061953_10204538174252988_4143107060712443774_n

Hingga matahari tepat berada di atas kepala, Daeng Ga’ma tetap giat bekerja. Sekali layar terkembang, pantang biduk surut ke pantai. Inilah Daeng Ga’ma bersama profesinya sebagai nelayan Makassar yang menjalani kerasnya kehidupan di tengah kota yang makin hari makin kejam dengan organisme individualismenya. Ia mencari ikan selama tiga hari pantang pulang ke rumah sebelum mencapai target, keberanian yang ia bangun membuatnya tetap tegar melaut walau sendirian.

Bahkan pernah suatu hari ia mendapati teman nelayannya meninggal di atas perahunya sendirian, namun hal ini tidaklah menjadikan rasa takut dalam hatinya. Kapalnya juga pernah tenggelam di tengah laut namun ia bisa mengatasinya tanpa rasa gentir dan penyesalan dalam mengaiz rezki di tengah lautan yang mengancam nyawa.

Akhirnya, Daeng Ga’ma membawa beberapa ekor ikan untuk santapan anak dan istrinya serta uang saku yang ia dapatkan dari hasil tangkapan ikannya. Setidaknya ia berhasil menafkahi 11 anak dan 1 istrinya dari penghasilam yang diraih dari kerja keras sendiri walau harus berani bermain dengan maut di kala layar terkembang.

11219690_10204538172572946_5012946405870851624_n (1)

13082564_10204538175253013_3336672743055587122_n

Iklan

One thought on “Inilah Nelayan Kota Daeng

  1. Alaika berkata:

    Wow, Daeng Ga’ma semangatnya luar biasa ya? Salut deh dengan par a nelayan ini. Semoga mereka diberkahi kesehatan dan kekuatan utk tetap melaut dan hasilkan rezeki bagi keluarga yaaa. 🙂

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Dengarkan musik hits di sini :

Part Of

Masukkan alamat surat elektronik Anda untuk mengikuti blog ini dan menerima pemberitahuan tentang pos baru melalui surat elektronik.

Bergabunglah dengan 17 pengikut lainnya

Instagram

Maaf, videonya rada alay gitu... Song : RESAH - Cover by ME 😎 (Original by @payungteduhofficial )

Music : via Smule 🎤 I wanna know, but I don't wanna ask. Untuk Anda yang ingin lanjut kuliah S2,dan S3 atau Study Tour di Negeri Sakura, Negeri Teknologi, Negeri Animasi ... JEPANG

Insyaallah. 20-26 November 2017
Contact Person: 081354310291 #MCMakassar #MCHijaber #inagaleri #MeandMyHijab #hijabersmakassar #makassarhijabers #instamakassar #makassar #makassarkeren Come 'n join us, Hijabers Makassar

Info : bit.ly/komiteHMM Be happy, be bright, be you

#inagaleri #MeandMyHijab #makassarhijabers #hijabersmakassar
Biru Pupus

Audhina Daw |dawai kata dalam kalimat

PENA BIRU

Catatan Kecil

Pena Biru

Catatan-Catatan Kecil

Sarwendah Moury

Tetap Diam Untuk Jadi Penonton atau Mulai Bergerak Untuk Menjadi Pemain

a s r i a d i

mencatat kehidupan

A+

My life, my soul, my adventure

andi syahriyunita

Architecture and Lifestyle

MZUH BLOG

TRY TO BE GOOD WRITER

Enal D' dactylon

Jadikan Duniamu, Duniaku, Dunia Kita Menjadi Hijau

DaengGassing.com

Ngeblog Dulu, Ngevlog Kemudian

lelakibugis

bermain.. terluka.. tertawa..

Gradasi Ungu dan Jingga

melihat tanpa menyentuh, merasa tanpa meraba

daengmacora

Just another WordPress.com site

Kue Jahe

Menulis, pekerjaan yang tidak pernah selesai.

%d blogger menyukai ini: